Mandat Sang Penyair yang Dibungkam: ‘Jika Aku Harus Mati, Anda Harus Hidup’—Kekuatan Narahubung Manfaat Al Areer di Tengah Konflik

​Pada 6 Desember 2023, dunia kehilangan salah satu suara paling gigih dari Gaza. Refaat Al Areer, seorang penyair, akademisi, dan pendiri proyek ‘We Are Not Numbers’, dibunuh karena narasi pro-keadilannya.

​Kematian seorang penyair di tengah konflik bukanlah sekadar tragedi personal. Itu adalah perang narasi. Dan puisi yang ditinggalkannya, “If I Must Die”, bukanlah sekadar ungkapan duka, melainkan mandat etis yang ditujukan langsung kepada media dan intelektual di seluruh dunia.

​’We Are Not Numbers’: Kata Sebagai Pertahanan Identitas

​Refaat Al Areer, seorang Profesor Sastra Inggris di Islamic University of Gaza (IUG), tidak hanya mengajar. Ia berjuang melawan dehumanisasi:

• Melalui proyek ‘We Are Not Numbers’, Al Areer melatih penulis muda Gaza. Tujuannya sederhana: memastikan setiap korban, setiap orang di Gaza, bukanlah angka statistik dalam laporan berita, melainkan memiliki kisah, nama, dan identitas yang perlu diceritakan.

• Di Gaza, puisi dan cerita pendek adalah senjata utama melawan upaya pembungkaman dan penghapusan sejarah. Al Areer membuktikan bahwa narasi yang jujur adalah aset paling kuat yang dimiliki oleh pihak yang tertindas.

​Mandat Terakhir: Puisi Layangan Pembawa Harapan

​Puisi terakhir Al Areer, “If I Must Die”, adalah intisari dari perjuangan narasi:

​”Jika aku harus mati,

Anda harus hidup

untuk menceritakan kisah saya…

melihat layangan, layanganku kau buat, terbang diatas,

dan berpikir sejenak ada malaikat di sana

membawa kembali cinta.”

• Puisi ini adalah perintah yang jelas kepada dunia luar. Ia meminta agar cerita itu terus hidup, terbang tinggi seperti layangan yang dibuat dari kain putih, sebagai simbol harapan dan keberlangsungan cinta.

• Bagi media seperti Getnews, ini adalah pengingat etis: Tugas kita bukanlah hanya melaporkan fakta (siapa yang dibunuh), tetapi melaporkan makna (mengapa ia dibunuh) dan pesan yang ia tinggalkan.

​Cermin Bagi Intelektual Indonesia

​Kisah Al Areer menjadi cermin yang menampar bagi kita di Indonesia:

Keberanian Kata-kata: Refaat Al Areer, yang dibunuh pada 6 Desember 2023 karena narasi pro-keadilannya, telah menunjukkan harga sebenarnya dari kebebasan berbicara.

• Jika seorang penyair di Gaza berani menyuarakan kebenaran di bawah ancaman rudal, mengapa seringkali intelektual dan media di Indonesia, yang hidup dalam kebebasan (meskipun terbatas oleh UU ITE dan tekanan politik), masih ragu dan memilih untuk bersuara indah di zona aman?

• Intelektual Indonesia harus menjaga api keberanian kata-kata, memastikan bahwa narasi publik tidak dibiarkan kosong dari kritik tajam dan komitmen pada kemanusiaan.

📰 BIODATA: Refaat Al Areer (1979 – 2023)

Nama LengkapRefaat Al Areer
LahirGaza, 1979
GugurGaza, 6 Desember 2023 (Usia 44 tahun)
PendidikanPh.D. Sastra Inggris (Universitas Putra Malaysia/UPM)
Profesi UtamaProfesor Sastra Inggris di Islamic University of Gaza (IUG)
Peran KunciPendiri proyek ‘We Are Not Numbers’ (kami bukan angka), yang melatih penulis muda Gaza untuk menceritakan kisah mereka kepada dunia.
Karya KunciPuisi terkenal: “If I Must Die”, Editor buku “Gaza Writes Back” dan “Light in Gaza: Writings Born of Fire.”

Refaat Al Areer telah memberikan mandatnya. Kematiannya bukan kekalahan, tetapi pemicu bagi kita untuk memastikan narasi keadilan, yang diibaratkan layangan putih berekor panjang, terus terbang tinggi, membawa kembali harapan.

dbs

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *