AMBARA

Kapal Tua di Lintas Kayangan-Poto Tano

Sebuah kapal ferry sedang melintas di selat Alas menuju Pelabuhan Kayangan Lombok dari Pelabuhan Poto Tano Sumbawa (Hero/getnews)

Curhat Wakil Ketua DPRD Muzihir: 60% Feri Lombok–Sumbawa Bekas, Aziz: “Kapal ‘Baperan’ Jangan Dibiarkan Bertemu Gelombang Tinggi!”

Aziz, si guide pariwisata yang selalu galau kalau lihat data BPS, hari ini bukan cuma galau. Dia sudah di tahap prustrasi melihat keanehan logika pemerintahan.

​”Pak Budi, Pak Budi! Sahut Aziz sama sohib kentalnya yang juga tak kalah galau karena nasibnya sebagai Honorer Non-subsidi eh sorry, Non-Database makin tak menentu.

“Saya mau ngeshare berita ke semua followers saya, tapi saya ragu-ragu,” ujar Aziz, sambil memegang ponselnya.

​”Kenapa ragu?” tanya Pak Budi.

​”Ini dia, Pak! Sudah baca berita Getnews belum? Ini bikin galau,” kata Aziz, menunjuk laporan dari Wakil Ketua DPRD NTB, Muzihir. Laporan itu menyoroti urat nadi utama Lombok dan Sumbawa: jalur penyeberangan Kayangan–Poto Tano.

​”Masalahnya, Pak Budi, menurut Pak Muzihir, sekitar 60 persen armada di rute ini adalah kapal tua dan sudah tidak layak! Kalau di Lombok, 60% itu artinya lebih banyak barang bekasnya daripada barang barunya, Pak! Ini namanya bukan transportasi, ini namanya Bisnis Feeling Lucky!” ujar orang bijak yang suaranya selalu muncul saat mereka galau.

​Kontradiksi Logistik: Kapal ‘Baperan’ Melawan Nyawa

​Aziz menyoroti kasus mesin mati di tengah laut sebagai bukti bahwa kapal-kapal ini sensitif.

Fakta Keras Muzihir: Muzihir mendesak Pemprov NTB segera menghentikan operasional kapal-kapal tua yang melayani rute ini. “Kapalnya banyak sekali, tapi tidak ada yang bagus,” tegas Muzihir.

Aziz memperlihatkan berita getnews dari ponselnya. “Saya paham Pemprov lagi fokus image luar: Mandalika, BIZAM. Tapi, buat apa image pariwisata kita bagus kalau penyeberangan ke Sumbawa ini dikelola dengan kapal-kapal yang ‘baperan’? Sedikit gelombang tinggi, mesinnya langsung ‘ngambek’ di tengah laut. Memangnya ini lagi syuting film Titanic, Pak?”

​Menunggu Tiket ke Alam Kubur?

​Kritik Muzihir menjelang NATARU (Natal dan Tahun Baru 2025/2026) sangat tajam:

​“Jangan tunggu ada kejadian baru dievaluasi. Ini menyangkut nyawa penumpang,”.

Ini adalah logika yang aneh: pemerintah didesak untuk bertindak sekarang karena risiko yang sudah jelas ada. Pemprov NTB diminta tidak memperpanjang izin kapal yang tidak memenuhi standar keselamatan.

Nyawa vs. Profit: “Pak Budi, cost perbaikan atau ganti kapal baru itu pasti mahal. Tapi, cost nyawa manusia jauh lebih mahal! Jangan sampai kita membiarkan warga kita beli tiket feri, tapi ternyata yang mereka beli adalah tiket ke alam kubur!” kata Aziz yang makin hari makin terdengar galau.

​Hentikan Undian Maut

​Aziz menyimpulkan dengan tegas, menuntut Pemprov NTB segera merealisasikan desakan Wakil Ketua DPRD Muzihir.

Mandat Keselamatan: “Pemprov NTB harus ingat, keselamatan itu tidak bisa dinegosiasikan. Hentikan undian maut ini sekarang!”

“Pak Budi, kita harap Pemprov NTB tidak hanya fokus pada event besar, tapi juga pada event paling dasar: keselamatan rakyat. Jangan sampai kita minta getnews harus membuat feature EPISODE tentang tragedi kapal NATARU, hanya karena mereka membiarkan kapal tua itu ngotot beroperasi!” ujarnya lantang. Sementara pak Budi manggut-manggut saja karena masih kepikiran biaya sekolah dan dapurnya yang sudah resmi hilang ditahun 2026.

Tautan Sumber:

​• <a href=”https://www.suarantb.com/wakil-ketua-dprd-ntb-minta-kapal-tua-kayangan-poto-tano-dihentikan/“>Suara NTB – Wakil Ketua DPRD NTB Minta Kapal Tua Kayangan–Poto Tano Dihentikan</a>

<a href=”https://lombokbarat.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-421145021/desak-pemprov-ntb-evaluasi-kapal-feri-kayangan-poto-tano-wakil-ketua-dprd-jangan-tunggu-kejadian-baru-dievaluasi“>Pikiran Rakyat – Desak Pemprov NTB Evaluasi Kapal Feri Kayangan-Poto Tano, Wakil Ketua DPRD: Jangan Tunggu Kejadian Baru Dievaluasi</a>

Emha Firmansyah

One thought on “Kapal Tua di Lintas Kayangan-Poto Tano

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *