Pembatasan Jatah Buang Sampah Justru Mengubah TPA Lokal Menjadi TPS Overload, Kebijakan Trial and Error di Tengah Ancaman Reputasi Pariwisata.
Krisis sampah di TPA Regional Kebon Kongok, Lombok Barat, telah memasuki babak baru. Dalam upaya memperpanjang usia pakai TPA yang kondisinya sudah kelebihan kapasitas (overload), jatah ritase (pembuangan) sampah dari Lombok Barat dan Kota Mataram dipotong hingga 50 persen.
Kebijakan pembatasan ini dimaksudkan untuk memaksa adanya pengelolaan sampah dari hulu. Namun, alih-alih menyelesaikan masalah, pembatasan ini justru memicu transfer krisis: truk sampah kini mengular berjam-jam di Kebon Kongok, sementara sisa sampah yang tidak terbuang mulai menumpuk di TPS dan lingkungan perumahan warga.
Gagalnya “Pagar Fiskal” Sampah
Langkah pembatasan ini memiliki tujuan ideal: mendorong masyarakat dan pemerintah daerah mengelola sampah organik/rumah tangga sendiri. Namun, hasilnya menunjukkan kebijakan ini diterapkan tanpa persiapan matang:
Defisit Harian yang Fatal: Kota Mataram saja kehilangan jatah pembuangan setara 60 hingga 80 ton sampah per hari. Sampah 60-80 ton ini tidak hilang, melainkan tertahan di TPS dan TPS liar di lingkungan masyarakat.
Transfer Krisis ke Warga: Warga di sekitar TPS, seperti yang mungkin dirasakan oleh banyak warga di lingkungan yang dulunya tenang, kini harus menghadapi tumpukan sampah yang semakin menggunung, bau tak sedap, dan ancaman penyakit, karena DLH tidak punya solusi short-term selain “meng-keep” sampah di TPS.
Solusi Jangka Panjang yang Terlalu Lambat
Pemerintah Provinsi NTB dan Pemkot Mataram menyadari masalah ini, tetapi solusi yang ditawarkan berada di masa depan:
• Harapan TPST Kebon Talo: Pemkot Mataram berharap pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kebon Talo, dengan anggaran Rp 80-90 miliar, dapat dimulai awal tahun dan selesai pada tahun 2026.
• Kesenjangan Waktu: Kesenjangan waktu antara penumpukan sampah saat ini dan selesainya TPST pada 2026 adalah “masa kritis” yang dapat merusak citra pariwisata NTB dan, yang lebih parah, menimbulkan krisis kesehatan di tengah komunitas.
Tuntutan Emergency Response
Mengacu pada kondisi overload ini, Pemerintah Provinsi NTB tidak bisa hanya menunggu kebijakan pembatasan membuahkan hasil.
Pemprov NTB harus melakukan intervensi pengelolaan sampah di Lobar dan Mataram.
Sementara menunggu TPST, Pemkot Mataram wajib mengoptimalkan semua sarana dan prasarana yang ada, seperti memaksimalkan pemanfaatan TPS3R, rumah kompos, dan pusat daur ulang untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke Kebon Kongok, sehingga dapat meringankan beban warga di sekitar TPS yang terpaksa menjadi penampungan darurat.
Kebon Kongok sedang memperpanjang napas, tetapi biaya untuk napas itu ditanggung oleh warga Mataram yang kini hidup berdampingan dengan tumpukan sampah. Kebijakan pembatasan tanpa infrastruktur pengganti yang siap adalah krisis yang ditunda.
Tautan Sumber :
• <a href=”https://www.detik.com/bali/nusra/d-8220622/tpa-kebon-kongok-dibatasi-lagi-sampah-makanan-tak-boleh-masuk“>Detikcom – TPA Kebon Kongok Dibatasi Lagi, Sampah Makanan Tak Boleh Masuk</a>
• <a href=”https://suarantb.com/2025/12/07/jatah-ritase-dikurangi-50-persen-truk-antre-membuang-sampah-di-tpa-kebon-kongok/“>SUARANTB.com – Jatah Ritase Dikurangi 50 persen, Truk Antre Membuang Sampah di TPA Kebon Kongok</a>
• <a href=”https://rri.co.id/mataram/daerah/1472395/pembatasan-tpa-kebon-kongok-sebabkan-lonjakan-sampah-di-tps-sandubaya“>RRI – Pembatasan TPA Kebon Kongok Sebabkan Lonjakan Sampah di TPS Sandubaya</a>
• <a href=”https://www.detik.com/bali/nusra/d-8248891/sopir-truk-terpaksa-menginap-demi-buang-sampah-di-tpa-kebon-kongok“>Detikcom – Sopir Truk Terpaksa Menginap Demi Buang Sampah di TPA Kebon Kongok</a>
• <a href=”https://www.beritalombok.net/2025/12/tpa-kebon-kongok-alami-overload.html“>Berita Lombok – TPA Kebon Kongok Alami Overload, Tumpukan Sampah Coreng Pariwisata NTB</a>
Tim Redaksi





One thought on “Ritase Sampah Dipotong 50%: Kebon Kongok Overload, Warga Kota Mataram Jadi Korban Baru Tumpukan Sampah”