LOMBOK TENGAH, GETNEWS – Wajah Bendungan Batujai di Kabupaten Lombok Tengah segera bersalin rupa. Bukan lagi sekadar waduk penampung air tawar, bendungan ini diproyeksikan menjadi Pusat Terminal Pesawat Air (Seaplane) pertama di Indonesia yang mengusung konsep pariwisata berkualitas (quality tourism).
Investasi ambisius dari PT Abadi Mega Angkutan Nusantara (Aman Air) ini akan mengintegrasikan akses udara dan air untuk menjangkau destinasi wisata eksklusif di Bali, NTB, hingga NTT secara lebih cepat dan mewah.
Baca juga: Efisiensi Langit Batujai: Membandingkan Mewahnya Seaplane vs Kecepatan Fast Boat
Konektivitas Langit dan Air: Rute Eksklusif Aman Air
Menggunakan pesawat jenis Twin Otter Seaplane berkapasitas 16–18 penumpang, Batujai akan menjadi titik tolak ke berbagai “surga” tersembunyi di wilayah timur Indonesia:
| Destinasi Unggulan | Provinsi | Estimasi Efisiensi |
|---|---|---|
| Teluk Moyo & Teluk Saleh | Nusa Tenggara Barat (Sumbawa) | Ke Sumbawa Barat hanya 15 menit. |
| Gili Trawangan, Meno, Air | Nusa Tenggara Barat (Lombok) | Akses langsung ke dermaga apung. |
| Labuan Bajo | Nusa Tenggara Timur | Memangkas waktu tempuh kapal laut secara signifikan. |
| Benoa | Bali | Koneksi cepat antar-pulau wisata utama. |
Alasan Strategis Pemilihan Batujai
Bupati Lombok Tengah, Lalu Pathul Bahri, yang meninjau lokasi bersama investor pada Kamis (18/12/2025), mengungkapkan dua alasan utama mengapa Batujai mengungguli lokasi lain:
- Kedekatan dengan Bandara: Lokasinya sangat strategis karena dekat dengan Bandara Internasional Lombok (BIL), memudahkan transfer penumpang internasional.
- Air Tawar untuk Perawatan: Penggunaan air tawar di bendungan sangat menguntungkan secara teknis karena meminimalkan risiko korosi pada mesin pesawat dibandingkan air laut.
Dampak Ekonomi dan Infrastruktur Baru
PT Aman Air berencana membangun hanggar seluas 5.000 meter persegi, dermaga apung, serta fasilitas dock untuk perawatan pesawat. Presiden Aman Air, Michael Nicholas, optimis proyek ini akan menduplikasi kesuksesan Maldives yang mampu meraup devisa hingga USD 5 juta per tahun dari sektor seaplane.
“Dari sini ke Sumbawa Barat hanya 15 menit. Cepat. Kami berharap bisa menghasilkan lapangan kerja di bidang quality tourism dan menyumbang pendapatan daerah,” ujar Michael.
Sistem penerbangan nantinya akan menggunakan mekanisme charter (sewa), yang diprediksi akan menarik tumbuhnya bisnis turunan seperti resort mewah dan restoran di sekitar bendungan.
Komitmen Sosial dan Lingkungan
Pihak investor menjamin bahwa operasional pesawat air ini tidak akan mengganggu aktivitas nelayan lokal maupun keberadaan keramba jaring apung milik masyarakat sekitar. Koordinasi intensif juga telah dilakukan dengan Dirjen Perhubungan Udara, AirNav, dan BWS Nusa Tenggara I.
Operasional perdana hub seaplane Batujai ini ditargetkan mulai meluncur pada kuartal pertama tahun 2026.




