GETNEWS. — Narasi APBN KiTA yang dipaparkan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa baru-baru ini menyuguhkan angka-angka yang sangat “hijau”. Dengan PMI Manufaktur menembus rekor 53,3 dan surplus perdagangan mencapai USD38,7 miliar, Jakarta seolah ingin mengirim pesan bahwa ekonomi kita sedang berlari kencang.
Namun, tim redaksi Getnews mencoba menyandingkan optimisme makro tersebut dengan data mikro di kolom GET DATA. Hasilnya? Ada “Gap Realitas” yang harus menjadi perhatian serius pemerintah.
📊 Tabel Variabel Analisis: Makro vs Mikro (Desember 2025)
Dilema Manufaktur dan Harga Piring Makan
Salah satu poin “seksi” dalam rilis Menkeu adalah pertumbuhan semikonduktor dan logam dasar. Namun bagi warga Mataram, kenaikan ekspor logam dasar tidak lebih relevan daripada kenaikan harga telur ayam yang kini merayap ke angka Rp52.000 per krat.
Inflasi volatile food yang disebutkan Menkeu sebagai “risiko musim hujan” adalah realitas pahit yang sedang kita konsumsi hari ini. Getnews menilai, optimisme manufaktur di level 53,3 bisa menjadi bumerang jika biaya hidup (cost of living) di daerah menggerus margin keuntungan pelaku UMKM yang baru saja mau pulih.
Tim GET INSIGHT



