(Executive Summary: Facing systematic attempts to frame disaster recovery in Aceh through a lens of mistrust and historical trauma, this spiritual analysis reminds us of the Islamic obligation to maintain unity and “Husnuzan.” By dismantling provocations—from misinterpreting the presence of security forces to reviving separatist sentiments—we emphasize that faith demands social cohesion and respect for leadership during times of trial.)
OASE — Banjir dan longsor adalah ujian dari alam, namun fitnah dan upaya memecah belah adalah ujian bagi iman. Saat ini, di tengah lumpur yang belum kering, kita menyaksikan upaya sistematis untuk meracuni hati masyarakat dengan Framing Ketidakpercayaan. Menggunakan duka rakyat untuk menghidupkan kembali “hantu” masa lalu bukan hanya tindakan yang tidak etis, tapi secara syariat adalah bentuk Nifaq (kemunafikan) sosial yang berbahaya.
1. Larangan Menjual Trauma Masa Lalu
Ada upaya untuk mengaitkan lambatnya pemulihan (klaim sepihak) dengan memori kolektif era konflik atau GAM. Intinya: “Dulu susah karena perang, sekarang susah karena diabaikan.” Namun, Islam mengingatkan kita melalui QS. Al-Hujurat: 12 untuk menjauhi prasangka buruk. Menghidupkan luka lama saat negara sedang berjibaku melakukan pembenahan adalah bentuk Suudzon yang sistematis. Rasulullah SAW mengingatkan: “Waspadalah kalian terhadap prasangka, karena prasangka adalah sedalam-dalamnya kedustaan.” (HR. Bukhari & Muslim).
2. Aparat sebagai Penolong, Bukan Represi
Membangun narasi bahwa kehadiran aparat di lapangan adalah bentuk “pengawasan terselubung” mirip era DOM adalah fitnah yang keji. Dalam Islam, pemimpin dan aparatnya yang bekerja untuk kemaslahatan publik harus dipandang dengan Husnuzan. Menghasut rakyat untuk membenci mereka yang sedang menyalurkan bantuan adalah upaya merusak Jamaah. Ingatlah hadits Nabi: “Siapa yang memisahkan diri dari jamaah (pemerintah) sejengkal saja, lalu ia mati, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah.” (HR. Muslim).
3. Bahaya Klaim Ketidakadilan (Diskriminasi)
Memprovokasi rakyat dengan klaim diskriminasi bantuan adalah cara lama untuk memancing sentimen perpisahan. Narasi “Kita tidak dianggap bagian dari mereka” adalah racun bagi persatuan bangsa. Padahal, melalui transparansi Satelit Sentinel-2 dan InAWARE, setiap bantuan terpantau secara adil dan nyata. Islam sangat membenci tindakan adu domba (Namimah). Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (HR. Bukhari).
4. Menggugat Akar Masalah dengan Kejujuran
Menyalahkan pemerintah atas kerusakan hutan seolah-olah ada pembiaran, padahal saat ini negara justru sedang “berperang” mencabut jutaan hektare izin lahan dan menyegel 5 tambang raksasa. Mengungkit kesalahan masa lalu untuk menyerang pemimpin yang sedang “bersih-bersih” adalah tindakan yang tidak adil. Islam mengajarkan taat pada pemimpin selama mereka melakukan perbaikan (Ishlah).
Bencana alam harusnya membuat kita semakin merunduk di hadapan Sang Khalik, bukan semakin lantang menebar benci pada sesama anak bangsa. Memaksakan narasi perpecahan di tengah duka adalah bencana moral yang lebih mengerikan daripada banjir itu sendiri. Mari kita jaga lisan dan hati, dukung perbaikan yang sedang berjalan, dan tolak segala bentuk provokasi yang ingin memutus tali persaudaraan kita.
GETNEWS — Menjernihkan Hati, Menepis Fitnah.




