GET PLANET

Dari Boven Digoel ke Pasar Global: Bupati Roni Omba Lepas Pengiriman Perdana Limbah Plastik

Ilustrasi sampah plastik, insert dalam lingkaran : Foto Bersama Usai penyerahan Piagam Penghargaan Sekolah Adiwiyata Tingkat Nasional dan Tingkat Provinsi (getnews/mc boven digoel)

BOVEN DIGOEL, GETNEWS. – Pemerintah Kabupaten Boven Digoel mengukir sejarah baru dalam tata kelola lingkungan dengan melepas pengiriman perdana limbah botol plastik hasil pemilahan masyarakat pada Sabtu (20/12). Langkah berani ini menandai transformasi pengelolaan sampah di wilayah Papua Selatan, dari metode konvensional “kumpul-angkut-buang” menuju sistem ekonomi sirkular yang produktif.

​Bupati Boven Digoel, Roni Omba, menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan buah sinergi antara kebijakan pemerintah, Bank Sampah yang dikelola Orang Asli Papua (OAP), serta kesadaran generasi muda melalui program Sekolah Adiwiyata.

Profil Pengelolaan Sampah Kabupaten Boven Digoel

​Dengan populasi yang terus bertambah, Boven Digoel mulai memetakan timbulan sampah sebagai potensi sumber daya, bukan sekadar limbah.

Parameter PengelolaanData & Fakta Lapangan
Estimasi Timbulan Sampah26,8 Ton per Hari (Skala Kabupaten).
Fokus Penanganan Saat IniDistrik Mandobo (12,70 Ton per Hari).
Inovasi Berbasis MasyarakatBank Sampah Kampung Mawan Jaya (Dukungan Dana Otsus).
Prestasi PendidikanSD Inpres Tanah Merah (Adiwiyata Tingkat Nasional).

Sampah Plastik dan Mitigasi Bencana

​Bupati Roni Omba mengingatkan bahwa pengelolaan sampah rumah tangga memiliki kaitan erat dengan mitigasi bencana. Dengan memilah botol plastik dari sumbernya, masyarakat secara tidak langsung telah mengurangi risiko banjir akibat penumpukan sampah di saluran air. “Pemisahan sampah plastik bukan hanya soal kebersihan, tapi menyangkut kesehatan dan kelestarian alam jangka panjang,” ujarnya.

Pemberdayaan OAP melalui Bank Sampah

​Kepala Bidang Lingkungan Hidup, Debora Itta, menjelaskan bahwa penguatan Bank Sampah di Boven Digoel kini didukung oleh Dana Otonomi Khusus (Otsus) dan dikelola langsung oleh Orang Asli Papua. Hal ini bertujuan agar nilai ekonomi dari limbah plastik dapat dirasakan langsung oleh masyarakat lokal, sekaligus mengurangi beban di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

infopublik.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *