DIGITAL NEWS

Media Center Jadi Penyelamat: Kisah di Balik 2 Pekan Putusnya Sinyal & Listrik Pascabanjir Aceh

Dua ASN PPPK Diskominsa Aceh sedang memanfaatkan jaringan Internet di Media Center Kementerian Komunikasi dan Digital (KemKomdigi) dengan Pemerintah Aceh. (Foto: Irfan IGID/Infopublik) GETNEWS

BANDA ACEH, GETNEWS. – Selama hampir dua pekan pascabanjir bandang akhir November 2025, warga Aceh harus menghadapi “kiamat” komunikasi akibat padamnya listrik dan jaringan seluler secara total. Di tengah situasi sunyi tersebut, Media Center kolaborasi Kemkomdigi dan Diskominsa Aceh menjadi titik krusial yang menjaga denyut informasi publik dan memfasilitasi komunikasi warga terdampak agar tidak terisolasi sepenuhnya.

​Kisah perjuangan para pengelola layanan operasional informasi ini menjadi bukti betapa vitalnya infrastruktur komunikasi cadangan dalam manajemen krisis kebencanaan.

Kronologi Pemulihan Komunikasi Pascabanjir Aceh

​Aktivitas pengelolaan informasi dan koordinasi kebencanaan dipusatkan sepenuhnya di Media Center selama masa darurat.

Fase BencanaKondisi Infrastruktur & Komunikasi
Minggu 1 – 2Listrik & sinyal mati total. Media Center menjadi satu-satunya akses Wi-Fi & pengisian daya.
Transisi PemulihanSinyal mulai muncul namun sangat lambat (delay pesan mencapai 15-20 menit).
Pertengahan DesemberPasokan listrik stabil, jaringan telekomunikasi kembali normal 100%.
Fungsi Utama MCPusat rilis kebencanaan, koordinasi narasumber, dan titik komunikasi darurat warga.

Bertahan di Media Center Demi Informasi

​Cut Meyriska Harnita (37), pengelola layanan Diskominsa Aceh, menceritakan pengalamannya bertahan dari pagi hingga malam di Media Center. “Satu-satunya cara tetap berkomunikasi dengan keluarga dan mendukung pekerjaan adalah bertahan di Media Center. Di rumah, komunikasi benar-benar terputus,” ujarnya. Fasilitas ini memungkinkan petugas mengunggah informasi kebencanaan yang sangat dinantikan publik selama masa kritis.

Tantangan Teknis: Menjaga Daya dan Sinyal

​Ikhsan Nul Zikri (25), operator jaringan, menjelaskan tantangan terbesar adalah kehabisan daya perangkat. Tim teknis harus bersiaga penuh memastikan genset dan jaringan di Media Center tetap aktif. Terkadang, tim harus berpindah lokasi mencari area yang listriknya menyala lebih awal demi menjaga stabilitas akses informasi bagi jurnalis dan petugas lapangan.

​Kini, memasuki akhir Desember 2025, kondisi komunikasi di Banda Aceh telah normal kembali. Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi Kemkomdigi untuk memperkuat ketahanan infrastruktur komunikasi di wilayah rawan bencana di seluruh Indonesia.

infopublik.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *