Tantangan Besar #1 — Mengapa Kekayaan Indonesia Mengalir ke Luar Negeri?
GET INSIGHT — Dalam seri kedua ini, kita membedah tesis utama Prabowo Subianto: bahwa Indonesia adalah negara yang sedang mengalami “pendarahan” kekayaan masif. Ia berargumen bahwa sebagian besar nilai tambah dari kekayaan alam kita justru dinikmati oleh bangsa lain, sementara rakyat sendiri masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
I. Esensi Bab: Defisit Nilai Tambah
Prabowo menyoroti pola ekonomi kolonial di mana Indonesia hanya menjadi penyedia bahan mentah. Dalam bukunya, ia memaparkan data bagaimana kekayaan nasional mengalir ke luar negeri karena kita tidak memiliki kedaulatan atas pengolahan sumber daya sendiri. Dampaknya? Daya beli rakyat rendah dan ketimpangan tajam.
II. Transformasi 2025: Dari Kebocoran Menjadi Kesejahteraan
Prabowo tidak hanya mengkritik dalam buku, tetapi menjawab tantangan tersebut melalui kebijakan perlindungan sosial yang agresif untuk memastikan kekayaan negara “berputar” di dalam negeri:
- Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Mengalihkan anggaran untuk konsumsi lokal yang menggerakkan ekonomi akar rumput (petani, peternak, dan UMKM).
- KPR KESRA & Rumah Murah: Pemanfaatan lahan pemerintah yang clear and clean untuk hunian rakyat merupakan cara Prabowo memastikan aset negara kembali ke tangan rakyat, bukan ke spekulan besar.
- BLT & Perlindungan Sosial: Memperkuat daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global.
III. Analisis Getnews: Menutup Keran Pendarahan
Menghentikan aliran kekayaan ke luar negeri dilakukan dengan cara memperkuat “benteng” di dalam negeri. Melalui sinergi KPR KESRA, MBG, dan BLT, Prabowo sedang menjalankan skenario Paradoks Indonesia: menghentikan kebocoran dengan cara memberikan kemakmuran langsung kepada mereka yang paling membutuhkan.
📚 SERI EKSKLUSIF: PARADOKS INDONESIA
Dapatkan analisis mendalam setiap minggu hanya di Getnews Insight. Membedah pemikiran Presiden Prabowo dan realitas masa depan bangsa.
BACA SELURUH SERI



