JAKARTA — Istana Merdeka tak lagi sekadar tembok putih yang sunyi di balik jeruji besi. Saban Minggu pagi, tepat saat jarum jam menyentuh angka 08.00 WIB, trotoar di depan bangunan bersejarah itu berubah menjadi panggung terbuka. Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) menghadirkan ritual yang selama ini tersembunyi: Upacara Serah Terima Pengawal Istana.

​Prosesi ini merupakan instruksi langsung dari Presiden, yang ingin “mendekatkan” wajah Istana kepada rakyat. Tak tanggung-tanggung, sekitar 150 personel pasukan elite dan 30 ekor kuda terlibat dalam parade yang memadukan kedisiplinan militer dengan estetika yang memukau. Masyarakat yang sedang menikmati Car Free Day (CFD) pun tumpah ruah, berebut posisi terbaik untuk mengabadikan momen langka ini.

​Komandan Paspampres Mayjen Edwin Sumantha menyebut, pihaknya menerjemahkan perintah Presiden dengan mengemas upacara yang tidak hanya menarik secara visual, tapi juga membangkitkan rasa bangga. “Kami ingin menghadirkan sesuatu yang gagah dan membanggakan, sekaligus menjadi daya tarik wisata bagi masyarakat,” ujarnya. Kini, berswafoto dengan latar Paspampres yang berseragam lengkap di depan Istana bukan lagi sekadar impian bagi warga yang berkunjung ke jantung ibu kota.

Audit Strategis: Diplomasi Militer dan Ruang Publik

​Analisis ini membedah bagaimana upacara rutin Paspampres bertransformasi menjadi instrumen komunikasi politik dan daya tarik wisata urban.

Strategic Audit: Palace Guard Ceremony Framework

KomponenDetail ProsesiVonis Strategis
Kekuatan Personel150 Pasukan Elite & 30 Ekor Kuda Terlatih.MILITARY PRIDE
AksesibilitasTerbuka untuk Umum di depan Istana Merdeka.PUBLIC ENGAGEMENT
Output WisataSpot Swafoto & Wisata Sejarah-Budaya.URBAN TOURISM

Verified Source: SETKAB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *