Pesannya singkat, padat, dan sangat beraroma ancaman: "Hati-hati mempolisikan Pandji, pengikutnya Gen Z semua! Powerfull banget, bisa menjatuhkan siapa saja!" (SC Akun FB Peter F Gontha/GETNEWS)

“Peringatan Peter F. Gontha agar tidak sembarangan mempolisikan Pandji Pragiwaksono bukan sekadar pembelaan sesama pesohor. Ini adalah audit realitas bahwa di tahun 2026, kemarahan kolektif Gen Z jauh lebih mematikan bagi reputasi daripada mobilisasi massa tradisional di jalanan.”

GET INSIGHT

GET INSIGHT – Peter F. Gontha, sosok yang biasanya bicara soal aviasi dan diplomasi ekonomi, tiba-tiba melempar granat di media sosial. Pesannya singkat, padat, dan sangat beraroma ancaman: “Hati-hati mempolisikan Pandji, pengikutnya Gen Z semua! Powerfull banget, bisa menjatuhkan siapa saja!”

​Di ruang sidang digital, pernyataan ini adalah pengakuan atas lahirnya kekuatan politik baru. Jika dulu “kekuatan” diukur dari jumlah anggota yang punya seragam, hari ini kekuatan diukur dari jumlah jempol yang sanggup meruntuhkan reputasi seseorang hanya dalam hitungan jam.

       

Mengapa Gen Z Begitu Menakutkan?

​Gen Z bukan cuma soal joget TikTok. Dalam ekosistem yang dibangun Pandji Pragiwaksono, mereka adalah barisan yang melek isu, punya solidaritas organik, dan—yang paling penting—tidak punya beban sejarah. Mereka tidak peduli pada hierarki lama; mereka hanya peduli pada siapa yang menurut mereka “asik” dan siapa yang “kaku”.

“Hati-hati mempolisikan PANJI, pengikutnya Gen Z semua… ! POWERFULL banget, bisa menjatuhkan siapa saja… !”

— Peter F. Gontha, Senior Businessman & Influencer

Audit Kekuatan: Ormas vs Pasukan Jempol

​Tim analisis getnews+ membedah mengapa peringatan Peter Gontha ini adalah audit risiko yang sangat valid bagi para pelapor:

Elemen KekuatanMetode Tradisional (Ormas)Metode Gen Z (Digital)
Senjata UtamaLaporan Polisi & Demonstrasi Fisik.Cancel Culture & Dooing.
KecepatanTergantung birokrasi dan mobilisasi.Real-time (Hitungan Menit).
Efek KerusakanHukuman penjara atau denda.Kematian Karakter & Boikot Massal.
“Menghadapi Gen Z bukan soal menang di pengadilan, tapi soal bertahan hidup di internet.”

*geser tabel ke kiri

Jangan Sewot Sama Robot (Algoritma)

​Peter Gontha sedang mengingatkan bahwa di era ini, memenangi satu kasus hukum bisa berarti kekalahan total dalam persepsi publik. Para pelapor mungkin merasa di atas angin karena punya dalil, tapi mereka lupa bahwa Pandji punya “pasukan” yang tidak butuh nasi bungkus untuk bergerak.

​Laporan polisi bisa diproses, tapi kebencian kolektif jutaan Gen Z tidak punya tombol undo. Jadi, sebelum lanjut lapor, ada baiknya para “senior” ini mendengarkan Peter: Apakah kalian siap menjadi target empuk algoritma yang tak kenal ampun?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *