PADANG PARIAMAN, GETNEWS. – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, menyuarakan kekhawatiran mendalam atas terputusnya rantai regenerasi pengrajin tradisional di Indonesia, khususnya di Sumatra Barat. Fenomena “pengrajin lansia” dan beralihnya minat generasi muda ke sektor industri pabrik dinilai akan menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan sektor ekonomi kreatif nasional menuju 2045.
Evita menegaskan bahwa pola pembinaan lama yang hanya mengandalkan pelatihan tanpa adanya daya tarik ekonomi (insentif) tidak akan lagi efektif untuk menarik minat milenial dan Gen Z.
Analisis Krisis Pelaku Ekonomi & Pertanian
Krisis regenerasi ini tidak hanya terjadi pada sektor kerajinan tangan, tetapi juga mulai merambah ke sektor ketahanan pangan nasional.
| Sektor Terdampak | Akar Masalah | Rekomendasi Kebijakan |
|---|---|---|
| Tenun & Kerajinan | Petenun mayoritas lansia; Pemuda lebih memilih bekerja di pabrik karena kepastian upah. | Pemberian Insentif Khusus bagi pemuda yang menekuni kriya tradisional. |
| Pertanian | Regenerasi petani mandek; Citra bertani dianggap kurang bergengsi. | Modernisasi Alat dan transformasi pertanian menjadi sektor industri formal. |
| Ekonomi Kreatif | Kesenjangan antara potensi besar daerah dengan ketersediaan SDM muda. | Penerapan Kebijakan Afirmatif untuk memastikan keberlanjutan usaha. |
Modernisasi sebagai Solusi Mutlak
Evita Nursanty menekankan bahwa untuk mengubah pola pikir generasi muda, profesi sebagai pengrajin atau petani harus terlihat menjanjikan secara finansial dan teknologi. “Pertanian harus dimodernisasi dan dijadikan industri,” ujarnya (22/12). Hal serupa berlaku bagi tenun dan kriya; jika tidak ada insentif dan sentuhan teknologi, keahlian tradisional ini hanya akan menjadi catatan sejarah.
Sumatra Barat sebagai Titik Uji
Laporan Kunjungan Kerja (Kunres) Komisi VII DPR RI mencatat Padang Pariaman memiliki modal budaya luar biasa. Namun, tanpa intervensi kebijakan yang memihak pada pelaku usaha muda, potensi ini berisiko hilang ditelan zaman.
dpr.go.id




