LITERASI ANOMALI

Algoritma Dusta, Saham Minyak, dan Sebaris Puisi yang Terbakar di Isfahan

Isfahan, Iran (ISTIMEWA)

JIKA ADA SATU HAL yang menjanjikan margin keuntungan lebih gila ketimbang bisnis crypto atau jualan es teh saat kemarau panjang, itu adalah bisnis memelihara musuh.

Dalam laporan tahunan Ministry of Peace (Kementerian Kedamaian)—sebuah institusi imajiner yang secara de facto mengendalikan poros Washington dan Tel Aviv—pertumbuhan ekonomi selalu stabil di angka 7% selama peluru kendali terus diproduksi dan dijatuhkan di Timur Tengah. Di dunia ini, dogma Orwellian berlaku secara harfiah: Perang adalah Kedamaian. Ketakutan adalah Modal. Minyak adalah Darah.

Di pucuk piramida kekuasaan ini duduk dua ekor babi—meminjam kiasan Animal Farm—yang kini mengenakan setelan jas Brioni dan dasi sutra. Yang pertama adalah Sang Presiden (sebut saja Tuan D), seorang mantan taipan real-estate berambut pirang yang melihat peta geopolitik layaknya papan Monopoli. Yang kedua adalah Sang Perdana Menteri (sebut saja Tuan N), seorang arsitek perang yang terobsesi memperlebar halaman belakang rumahnya hingga memenuhi batas-batas “Tanah Raya” yang ia tafsirkan sendiri dari peta kuno.

Keduanya memiliki satu visi utama: Menguasai sumur-sumur emas hitam di Persia (Iran) dan memperluas perimeter teritorial tanpa batas. Masalahnya, bagaimana cara Anda menginvasi negara yang tidak sedang menyerang Anda? Di sinilah kejeniusan politik ala 1984 bermain. Anda harus menciptakan serangan itu sendiri.

Saban hari, faksi-faksi dari Persia (Iran), Syam (Suriah), Bukit Cedar (Lebanon), hingga Tanah Zaitun (Palestina) diam-diam mengirimkan sinyal diplomasi. Namun, setiap kali proposal gencatan senjata diletakkan di atas meja, sebuah “serangan teroris misterius” entah bagaimana selalu terjadi di perbatasan. Tiba-tiba ada drone tak dikenal menghantam pangkalan kosong. Tiba-tiba ada kapal tanker yang meledak sendiri. Di layar kaca, Tuan D dan Tuan N akan berdiri dengan wajah prihatin yang dilatih di depan kaca, mengutuk “poros setan” dan menuntut anggaran pertahanan tambahan. Maklum, jualan ketakutan itu jauh lebih laris dari kacang goreng. Mereka tak akan pernah membiarkan dunia ini damai; sebab dunia yang damai berarti anjloknya saham pabrik senjata dan gagalnya proyek aneksasi.

Namun, di dalam mesin raksasa yang dingin ini, selalu ada sekrup yang longgar. Sekrup itu bernama Sarah.

Sarah adalah seorang analis data senior berdarah Yahudi-Amerika yang bekerja di divisi intelijen Pentagon. Kakek-neneknya adalah penyintas Holocaust yang mengajarinya makna sejati dari frasa “Never Again”—bahwa penindasan tak boleh terjadi pada siapa pun, bukan sekadar tameng untuk menindas orang lain. Pekerjaan Sarah sehari-hari adalah mengawasi anomali data di wilayah udara Timur Tengah.

Di luar jam kerja, melalui peladen catur anonim yang terenkripsi berlapis-lapis VPN, Sarah jatuh cinta pada Arash.

Arash bukan ekstremis. Ia hanya seorang insinyur sipil dan penyair paruh waktu di Isfahan, Iran, yang lebih suka membicarakan arsitektur jembatan Si-o-se-pol, puisi-puisi Hafez, dan karya Walt Whitman ketimbang urusan pengayaan uranium. Hubungan lintas batas ini adalah pembangkangan terbesar di abad modern. Mereka adalah Winston dan Julia di dunia nyata; dua manusia yang mencoba merawat kewarasan di tengah propaganda doublethink yang dicekokkan mesin negara setiap pagi.

“Kalau mereka tahu aku mencintai seorang pria Persia,” ketik Sarah suatu malam, layar komputernya berpendar menerangi wajahnya yang lelah. “Mereka akan menuduhku terkena virus radikalisme.”

“Lalu aku akan membalasnya dengan soneta,” balas Arash. “Agar mereka tahu bahwa cinta dari Isfahan jauh lebih berbahaya dari hulu ledak nuklir.”

Kisah cinta mereka bertahan di atas untaian kode biner, sampai suatu hari di hari Selasa, algoritma di meja Sarah menangkap sebuah pergerakan data yang ganjil.

Tuan D dan Tuan N akhirnya menjalankan “Operasi Badai Suci”. Rencananya klasik: menembakkan rudal balistik ke salah satu kapal induk mereka sendiri yang sudah dikosongkan di Teluk Persia, lalu memalsukan sinyal radar agar terlihat seolah-olah rudal itu ditembakkan dari Isfahan. Itu adalah casus belli—alasan perang—yang sempurna untuk meratakan Iran, menduduki ladang minyaknya, dan memuluskan peta Israel Raya.

Sarah melihat metadata yang tidak bisa berbohong. Rudal itu bukan dari Iran. Itu adalah false flag, sebuah kebohongan yang dirancang dengan sangat rapi oleh pemerintahnya sendiri.

Dengan tangan bergetar, Sarah melakukan pelanggaran keamanan tingkat tinggi. Ia membuka jalur komunikasi terenkripsinya untuk terakhir kali.

“Arash. Dengar aku,” pesan Sarah meluncur menembus kabel serat optik bawah laut. “Ini jebakan. Mereka butuh alasan untuk masuk. Malam ini, langit Isfahan tidak akan aman. Lari, Arash. Bawa keluargamu. Menjauhlah dari pusat kota!”

Di seberang sana, di sebuah kamar yang dipenuhi buku-buku usang dan cetak biru bangunan, Arash membaca pesan itu. Namun, bagi Arash, melarikan diri adalah sebentuk pengkhianatan terhadap jiwanya sendiri. Isfahan bukan sekadar titik koordinat di layar radar yang siap dihapus oleh rudal balistik; ini adalah tanah leluhurnya. Di setiap jengkal batanya bersemayam sejarah Persia yang usianya ribuan tahun, wangi safron, dan peluh kakek buyutnya yang ikut membangun peradaban kota ini. Kecintaannya pada tanah airnya tumbuh menancap sedalam akar pohon zaitun, tak tergoyahkan oleh ancaman badai.

“Sarah, cintaku,” balasan Arash muncul tiga menit kemudian. “Aku tidak akan lari. Jika para pria tua yang rakus di negaramu ingin meruntuhkan tanah kelahiranku demi minyak dan peta mereka, biarkan aku berdiri di sini. Aku akan menyambutnya bersama gedung-gedung yang kubangun dan puisi-puisi yang kutulis. Martabat sebuah bangsa dan harga diri seorang manusia tidak diukur dari seberapa cepat ia berlari meninggalkan rumahnya saat diancam.”

Sarah menangis, mengetik dengan panik, memohon. Namun layar tiba-tiba terputus. Bukan karena koneksi internet, melainkan karena alarm di gedung Pentagon berbunyi nyaring.

Pintu ruang kerja Sarah didobrak terbuka. Enam pria berseragam hitam dari Biro Keamanan Internal masuk tanpa ekspresi. Mereka tidak berteriak. Mereka hanya mencabut kabel daya, menyita perangkat, dan menarik Sarah dari kursinya. Ia ditangkap atas tuduhan “Pengkhianatan terhadap Keamanan Nasional”. Di dunia Orwelian, menyuarakan kebenaran adalah tindak pidana makar.

Di malam yang sama, rudal-rudal meluncur. Langit Isfahan menyala terang, bukan oleh bintang, melainkan oleh fosfor putih dan hulu ledak yang dibeli dari uang pajak warga negara yang mengira mereka sedang mendanai perdamaian. Apartemen Arash, tempat di mana ia menolak untuk tunduk, hancur menjadi debu bersama buku-buku puisinya. Tuan D dan Tuan N mendapatkan apa yang selalu mereka inginkan: perang yang menguntungkan, dalih untuk merampok minyak, dan peta baru yang berdarah.

Keesokan paginya, Getnews merilis laporan utama dengan nada yang analitis, dingin, dan berjarak: “Pasar merespons positif intervensi militer terbaru di Timur Tengah. Saham kontraktor pertahanan melonjak 15%, sementara harga minyak mentah berhasil distabilkan berkat pengamanan agresif oleh pasukan koalisi.”

Tidak ada yang menulis tentang patriotisme Arash yang mati berdiri di rumahnya sendiri. Tidak ada yang menulis tentang Sarah yang kini ditahan di fasilitas black site tanpa nama, menghabiskan sisa hidupnya menatap dinding beton dalam bisu.

Di mata negara, cinta dan kebenaran mereka tidak pernah ada. Kisah mereka hanyalah noise, sebuah anomali data kecil yang telah berhasil dihapus dari algoritma besar bernama Kekuasaan. Sejarah, bagaimanapun, selalu ditulis oleh mereka yang menekan tombol peluncur rudal, bukan oleh mereka yang menulis puisi cinta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *