AMBARA

Kopdes Merah Putih vs Gurita Biru-Merah: Sebuah Misi (Hampir) Mustahil dari Pak Menteri

​KALAU ADA kompetisi “Mimpi Paling Berani 2026”, pernyataan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, jelas kandidat juara bertahan. Bayangkan, di tengah gurita bisnis minimarket modern yang sudah memetakan setiap jengkal gang—bahkan mungkin sudah tahu merek sabun cuci favorit kucing di pelosok desa—muncul wacana untuk memencet tombol shutdown.

​Senjatanya? Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.

​Pernyataan Pak Yandri di hadapan Komisi V DPR RI ini bukan sekadar retorika politik di tengah jam mengantuk. Ini adalah upaya restrukturisasi ekonomi yang sangat ambisius, atau kalau mau jujur: sangat berisiko bikin rakyat bingung cari token listrik tengah malam. Idenya sederhana; kalau Kopdes sudah jalan, ekspansi si “Biru” dan si “Merah” harus tamat. Biar uang warga desa nggak mampir ke Jakarta, tapi ngendon di saku warga sendiri.

Antara Proteksi dan Kompetisi: Jangan Cuma Modal Semangat

​Secara teoritis ala The Economist, ini namanya proteksionisme lokal. Tujuannya suci: kedaulatan ekonomi. Tapi secara praktis di lapangan, ini adalah medan perang logistik yang berdarah-darah.

​Ritel modern itu menang bukan cuma karena warna logonya ikonik, tapi karena mereka punya efisiensi rantai pasok yang bikin barang selalu ada dan harganya standar. Kalau Kopdes mau head-to-head, nggak bisa cuma modal “semangat gotong royong” atau spanduk Merah Putih yang berkibar. Kopdes butuh sistem kasir yang nggak gampang hang, harga yang nggak naik-turun kayak perasaan remaja, dan stok barang yang nggak “kosong” pas warga lagi butuh-butuhnya.

​Jangan sampai niat hati mengusir raksasa korporasi, malah bikin warga desa stress karena mau beli pembalut atau kopi sachet aja harus nunggu pengiriman dari kota yang entah kapan sampainya.

Strategic Audit: Rural Retail Sovereignty

ASPEK ANALISISNARASI PEMERINTAHREALITAS LAPANGAN
Tujuan UtamaMenyetop pelarian modal desa ke korporasi raksasa.Uji nyali birokrasi: Bisakah mengelola bisnis profesional tanpa “titipan”?
Senjata UtamaKopdes Merah Putih sebagai pengganti mutlak.Minimarket sudah punya jalur logistik yang “mendarah daging”.
Nasib RaksasaSetop ekspansi dan tutup izin di wilayah pedesaan.Risiko sengketa investasi dan berkurangnya loker buat anak muda desa.

Vonis Akhir: Sante, Lur!

​Mimpi Pak Menteri memang terdengar seksi, apalagi kalau dibahas sambil ngopi di beranda Balai Desa. Tapi mari kita jujur sejujur-jujurnya: mematikan minimarket modern tanpa memperkuat fundamental Kopdes itu resep jitu buat bikin barang jadi langka. Rakyat itu nggak butuh sekadar “toko milik desa”, mereka butuh toko yang lampunya terang, lantainya bersih, dan barangnya lengkap dari sabun sampai pulsa.

​Kalau Kopdes Merah Putih bisa menyamai standar pelayanan itu, minimarket modern bakal layu dengan sendirinya tanpa perlu dilarang-larang. Dunia ini bisnis, Bung! Kalau kualitas kita lebih bagus dan lebih murah, pembeli pasti antre sendiri. Jadi, sebelum benar-benar mematikan izin Indomaret-Alfamart, pastikan dulu “mesin” Kopdes sudah dipanaskan, olinya penuh, dan sopirnya bukan sekadar titipan perangkat desa yang kerjanya cuma main catur di jam kerja. Sante!

Baca Juga Artikel ini: Tragis! Perputaran Uang di Dapur MBG Jauh Lebih Besar Ketimbang di Pemerintahan

Yang WOW dari Presiden: Lawatan ke Washington, Presiden Prabowo Kantongi Kesepakatan Investasi US$ 38,4 Miliar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *