YOGYAKARTA — Jadi aktivis mahasiswa di zaman sekarang itu emang berat. Nggak cuma harus pusing mikirin skripsi atau jatah uang jajan yang makin menipis, tapi juga harus siap-siap mental kalau tiba-tiba dapet pesan WhatsApp misterius.
Nasib kurang enak ini baru saja menimpa Tiyo Ardianto, Ketua BEM UGM. Gara-garanya? Dia vokal menyuarakan duka soal kasus anak SD di NTT yang bunuh diri. Tiyo menganggap pemerintah lagi “absen” dalam menjamin hak dasar anak. Eh, bukannya dijawab pakai argumen data yang adem, Tiyo malah dapet teror ancaman penculikan dari nomor berkode Inggris (+44).
Bayangkan, pelakunya niat banget pakai nomor luar negeri cuma buat ngatain Tiyo “Agen Asing” dan “Cari Panggung”. Padahal kalau mau cari panggung, mending daftar audisi nyanyi aja daripada neror mahasiswa, ya kan?
DPR Mulai Gerah
Tindakan norak ini pun sampai ke telinga Senayan. Anggota Komisi X DPR RI, Hilman Mufidi, langsung pasang badan. Dia mengecam keras aksi yang dibilang sebagai upaya pembungkaman suara mahasiswa.
BACA JUGA ARTIKEL TERKAIT:
DPR Desak Polisi Usut Teror Terhadap Ketua BEM UGM”Tindakan teror kepada adinda Tiyo tentu sangat tidak sepatutnya dilakukan. Itu sama saja dengan praktik pembungkaman,” kata Hilman. Politisi PKB ini juga mendesak polisi buat ngusut siapa sebenarnya “sutradara” di balik teror nomor Inggris ini. Masa iya intelnya jauh-jauh dari London cuma buat ngurusin grup WA mahasiswa?
Hati Boleh Panas, Pikiran Harus Tetap Dingin
Hilman mengingatkan kalau kritik Tiyo itu sebenarnya wujud duka kolektif kita semua atas tragedi di NTT. Harusnya disikapi pakai keterbukaan hati dan kepala dingin, bukan malah pakai ancaman culik-menculik yang berasa kayak balik ke zaman orba.
Lagi pula, kalau setiap kritik dijawab pakai teror, lama-lama orang makin malas ngomong. Padahal demokrasi itu butuh suara, bukan teror yang pakai kode area luar negeri biar kelihatan keren.




