MATARAM — Dalam narasi pembangunan, pariwisata sering kali diposisikan sebagai “obat sapu jagat” untuk kemiskinan. Namun, Ketua HPI NTB, Lalu Fatwir Uzali, mengingatkan bahwa obat tersebut bisa menjadi tawar—atau bahkan pahit—jika fundamentalnya tidak dibenahi. Saat pemerintah sibuk mengejar predikat “Mendunia,” HPI justru menemukan realitas yang jauh dari kesan glamor: tumpukan sampah dan amenitas yang mati suri.
Analisis Get Insight: Paradoks Multiplier Effect
Secara teoritis, pariwisata memiliki multiplier effect yang masif, mulai dari pedagang asongan hingga institusi pendidikan. Namun, data lapangan menunjukkan adanya hambatan struktural dalam hal Aksesibilitas dan Amenitas. Destinasi di Sekotong atau Gunungsari mungkin memiliki lanskap sekelas Bali, namun secara ekonomi, nilainya terdiskon akibat buruknya infrastruktur dasar.
Tanpa standar fasilitas minimum—seperti toilet layak dan konektivitas komunikasi—biaya untuk menarik satu wisatawan akan jauh lebih besar daripada nilai ekonomi yang mereka tinggalkan (leakage effect). Jika promosi digenjot tanpa perbaikan fasilitas, NTB sebenarnya sedang melakukan “pemasaran kegagalan.”
Vonis Redaksi:
Kritik Pak Lalu Fatwir ini jujur banget, seakan bilang: “Jangan mimpi mau go-global kalau urusan flush toilet aja masih problematik.” Kita sering terlalu sibuk dandan buat foto di media sosial agar kelihatan “Mendunia,” tapi lupa kalau tamu yang datang itu manusia yang butuh jalan mulus dan udara yang nggak bau sampah.

Secara Ambara, kalau kita sendiri nggak betah di rumah sendiri gara-gara kotor, ya jangan harap turis mau bayar mahal buat datang. Pariwisata itu bukan cuma soal panggung hiburan, tapi soal kenyamanan paling personal—termasuk kebersihan toilet dan pinggir jalan. Sante, lur! Tapi kalau liat sampah mending gerak, jangan cuma dipotret terus di-upload pake caption motivasi.
Analisis Menarik: Tragis! Perputaran Uang di Dapur MBG Jauh Lebih Besar Ketimbang di Pemerintahan
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
Lombok Utara dan Diplomasi Kurma: Langkah Berani atau Sekadar Mimpi?



