JAKARTA — Beasiswa LPDP adalah mandat rakyat, bukan sekadar “tiket gratis” untuk migrasi ekonomi. Kasus alumni berinisial DS yang pamer kewarganegaraan Inggris anaknya di media sosial berujung pada sanksi maksimal: Daftar Hitam (Blacklist) dari seluruh lingkungan pemerintah dan kewajiban pengembalian dana beasiswa secara utuh.
Langkah Purbaya ini mengirimkan pesan bahwa negara tidak akan menoleransi perilaku yang dianggap mengkhianati misi kepulangan dan kontribusi nasional.
I. Analisis “Get Insight”: Pelanggaran Klausul Kontrak Kedaulatan
Dalam setiap kontrak LPDP, terdapat kewajiban moral dan hukum untuk kembali dan mengabdi di tanah air. Kasus DS dianggap sebagai simbol “Brain Drain” yang disengaja.
- Paradoks Kontribusi: Menggunakan dana pajak rakyat Indonesia untuk mendapatkan pendidikan tinggi, namun secara sadar memutus rantai regenerasi nasional dengan memindahkan kewarganegaraan keturunan ke negara donor (Inggris).
- Efek Jera: Sanksi pengembalian dana (yang bisa mencapai miliaran rupiah) serta larangan bekerja di pemerintahan adalah langkah “pemiskinan strategis” bagi mereka yang dianggap tidak loyal.
II. Sentimen Publik: Keadilan bagi Pembayar Pajak
Di tengah sulitnya akses pendidikan bagi jutaan anak di pelosok, pamer status “Warga Negara Inggris” oleh seorang penerima beasiswa negara adalah provokasi kelas atas. Keputusan LPDP untuk bertindak keras mendapatkan dukungan luas dari netizen dan kelompok akademisi yang masih memegang teguh nilai nasionalisme.
Vonis Tim Get Insight: Sante, Lur!
Kasus DS adalah pengingat pahit bahwa gelar master atau doktor dari luar negeri tidak otomatis membuat seseorang memiliki “darah biru” yang lebih mulia dari mereka yang berkeringat di tanah air. Jika Anda memilih menjadi warga dunia dengan mengabaikan asal-usul modal pendidikan Anda, maka bersiaplah membayar harganya secara tunai.
Sante, lur! Tapi ingat, beasiswa itu amanah, bukan hadiah tanpa syarat. Purbaya sudah menunjukkan bahwa LPDP punya gigi untuk menggigit balik mereka yang lupa daratan. Jangan sampai kuliah di London membuat kita lupa cara menghormati bendera merah putih yang membiayai setiap lembar buku kita di sana. Sante!
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
Geger Aula Tambora: Saat 392 Pejabat NTB Harus “Log Out” Berjamaah



