JAGAT media sosial kita baru saja dihantam badai identitas yang dipicu oleh satu unggahan dokumen. Dwi Sasetyaningtyas, seorang alumni LPDP, mendadak jadi musuh publik nomor satu setelah mengumumkan anak-anaknya resmi memegang paspor Inggris. Kalimatnya yang berbunyi, “Dunia terlihat tidak adil tapi cukup aku saja yang WNI,” seolah menjadi bensin yang menyambar api nasionalisme netizen. Sante, Lur! Masalahnya bukan cuma soal pindah kewarganegaraan, tapi soal narasi yang dianggap “merendahkan” tumpah darah sendiri di tengah fasilitas negara yang sudah dinikmati.
Secara sosiopolitik, kasus ini mengungkap luka lama soal etika penerima beasiswa negara (awardee). LPDP pun harus turun tangan menegaskan soal integritas dan kewajiban mengabdi. Namun, kejutan terbesar justru datang dari akun resmi Serie A di platform X. Di tengah debat kusir soal nasionalisme, liga kasta tertinggi Italia itu malah mengunggah foto Jay Idzes dengan caption menohok: “Jay Idzes aja bangga jadi WNI.” Sebuah plot twist yang membuat narasi “pindah demi masa depan” ala Tyas terlihat kontras dengan “pulang demi kebanggaan” ala Bang Jayadi.
Audit Strategis: Dilema Loyalitas dan Integritas Awardee
Analisis ini membedah kaitan antara investasi pendidikan negara dengan tanggung jawab moral penerimanya dalam menjaga marwah nasionalisme.
Antara Hak Individu dan Beban Pajak Rakyat
Memilih masa depan anak memang hak setiap orang tua. Tapi, Sante, Lur! Masalahnya jadi pelik kalau kamu sekolah pakai uang pajak dari rakyat yang kamu anggap “tidak adil” dunianya itu. LPDP bukan cuma soal transfer ilmu, tapi soal kontrak sosial. Jay Idzes, yang besar di Eropa, justru melihat Indonesia sebagai “masa depan” dan kebanggaan. Sementara bagi sebagian orang yang sudah disekolahkan negara, Indonesia seolah-olah cuma jadi batu loncatan untuk mengejar status warga dunia.
Vonis Strategis:
Fenomena ini adalah tamparan bagi sistem rekrutmen beasiswa negara. Kualitas intelektual saja tidak cukup jika integritas dan rasa memiliki terhadap bangsa nol besar. Jay Idzes telah membuktikan bahwa nasionalisme itu soal aksi, bukan sekadar dokumen. Bagi para pejuang LPDP lainnya, kasus ini adalah pengingat: jangan sampai gelar master di luar negeri malah membuatmu buta warna terhadap merah putih. Sante saja dulu, biarkan sanksi sosial dan aturan LPDP bekerja, kita cukup belajar dari Bang Jayadi gimana caranya bangga jadi WNI.




