LOMBOK TENGAH— Upaya mewujudkan “Lombok Tengah Hijau” memasuki babak baru. Bertempat di Aula Kantor Desa Penujak, Minggu (22/2/2026), Forum Kepala Dusun (FORKA) Kabupaten Lombok Tengah secara kolektif mendeklarasikan perang terhadap aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI). Langkah ini diambil sebagai respons atas keresahan warga terhadap kerusakan hutan lindung dan ancaman terhadap keberlangsungan pariwisata berkelanjutan di wilayah selatan.
I. Komitmen Pemda: RTRW adalah Harga Mati
Wakil Bupati Lombok Tengah, Dr. H. M. Nursiah, dalam diskusi tersebut menegaskan bahwa posisi pemerintah daerah sudah final. Berdasarkan Perda No. 7 Tahun 2011 tentang RTRW, tidak ada ruang bagi aktivitas pertambangan di wilayah Lombok Tengah.
”Jadi di Perda itu sudah tidak mengizinkan tambang ilegal dalam bentuk apapun, baik masyarakat personal, kelompok, maupun perusahaan. Tidak pernah ada izin,” tegas Nursiah. Beliau menginstruksikan agar kemajuan pariwisata yang saat ini dinikmati tidak boleh dikorbankan oleh kerusakan lingkungan akibat merkuri dan penggundulan hutan.
II. Kadus sebagai Garda Terdepan
Ketua FORKA Lombok Tengah, Lalu Wely Vidi Hamid, menyatakan kesiapan seluruh perangkat dusun untuk menjadi intelijen lingkungan. Sebagai ujung tombak yang bersentuhan langsung dengan warga, para Kadus berkomitmen untuk melakukan sosialisasi preventif sekaligus melaporkan setiap aktivitas “bandel” yang kembali muncul di titik-titik rawan seperti Gunung Prabu dan Desa Serage.
Vonis Tim Get Insight: Sante, Lur!
Langkah FORKA dan Pemkab Loteng ini patut diacungi jempol. Namun, Get Insight mengingatkan: penutupan tambang tanpa solusi transisi ekonomi bagi warga lokal adalah “bom waktu”. Mengajak masyarakat beralih ke pariwisata adalah visi mulia, tapi pelatihan dan akses modal di desa-desa lingkar tambang harus nyata. Sante, lur! Tapi urusan menjaga Gunung Prabu jangan kasih kendor. Sekali merkuri mencemari air tanah Mandalika, maka label pariwisata dunia kita tinggal cerita.
BACA JUGA ANALISIS LAIMNYA:
Lombok Utara dan Diplomasi Kurma: Langkah Berani atau Sekadar Mimpi?



