ANALISIS GETNEWS

Diplomasi “Renville” di Gaza: Trump, ISESS, dan Hantu KTN 1947

ILUSTRASI - GAZA (ISTIMEWA)

​SEJARAH sering kali tidak terulang, namun ia sering kali berima. Khairul Fahmi, Co-Founder ISESS, baru saja melemparkan sebuah tesis yang provokatif namun logis: Bahwa inisiasi Board of Peace Donald Trump saat ini adalah “reinkarnasi” dari Committee of Good Offices (KTN) tahun 1947 yang dahulu membantu Indonesia lepas dari cengkeraman Belanda.

​Bagi mereka yang lupa pelajaran sejarah, KTN 1947 adalah bukti bahwa diplomasi bukanlah soal memenangkan semua keinginan, melainkan soal menjaga eksistensi di tengah keterbatasan militer. Indonesia pernah berada di posisi Palestina saat ini—militernya terkepung, materialnya cekak, tapi punya “kartu as” berupa pengakuan internasional.

Multilateralisme sebagai Arena Kepentingan

​Meminjam gaya analisis The Economist, forum multilateral seperti Board of Peace bukanlah lembaga amal. Ia adalah arena kepentingan. Fahmi menegaskan bahwa KTN 1947 pun tidak sepenuhnya memihak Indonesia; Belgia dekat dengan Belanda, dan Amerika Serikat awalnya ragu. Hanya Australia yang bersimpati.

​Namun, KTN memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada peluru: Ruang Legal. Republik Indonesia tidak lagi dianggap sebagai “pemberontak kolonial” oleh dunia, melainkan pihak sah dalam konflik. Inilah yang diharapkan muncul dari Board of Peace untuk Palestina—sebuah transisi dari sekadar “faksi konflik” menjadi institusi pemerintahan yang sah di bawah supervisi internasional yang konsisten.

Strategic Audit: Diplomatic Bridge-Building

Variabel AnalisisCommittee of Good Offices (1947)Board of Peace (2026)
Legal StandingResolusi DK PBB No. 31Resolusi DK PBB & Inisiasi AS
Peran IndonesiaSebagai Subjek yang memperjuangkan kedaulatan.Sebagai Mediator & Anggota Tetap Dewan.
Vonis StrategisSUKSES: Mengantar kedaulatan 1949.ON TEST: Bergantung pada implementasi transisi.

Vonis Ambara:

Intinya, diplomasi itu bukan soal siapa yang paling suci, tapi siapa yang paling cerdik baca arah sejarah. Kita dulu menelan Perjanjian Renville yang pahit luar biasa (sampai wilayah RI sisa seupil) demi bisa tetap hidup sampai momentum geopolitik berubah. Sekarang, Palestina diajak main di Board of Peace. Mungkin tidak semua tuntutan mereka bakal dipenuhi Trump, tapi kalau ini bisa jadi jalan menuju kedaulatan seperti KTN dulu, ya kenapa tidak? Sante, lur! Kemerdekaan itu soal napas panjang, bukan cuma soal teriak lantang.

Further reading: Lawatan ke Washington, Presiden Prabowo Kantongi Kesepakatan Investasi US$ 38,4 Miliar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *