DI BALIK pilar-pilar putih Istana Merah Putih, sebuah meja bundar besar sedang disiapkan. Presiden Prabowo Subianto secara resmi mengundang jajaran tokoh bangsa lintas generasi untuk duduk bersama dalam sebuah ruang diskusi formal. Langkah ini, sebagaimana dirilis oleh laman resmi Setneg.go.id, bukan sekadar basa-basi politik, melainkan upaya ambisius untuk menciptakan stabilitas nasional melalui konsolidasi para “penjaga gawang” republik.
Prabowo tampaknya sadar bahwa untuk memimpin Indonesia di tengah badai geopolitik global, ia tidak bisa hanya mengandalkan koalisi partai, tetapi juga legitimasi dari para begawan politik dan aktivis senior.
Diskusi Lintas Generasi: Memutus Sekat Senioritas
Agenda ini menandai pergeseran gaya kepemimpinan Prabowo yang kini lebih inklusif. Dengan mempertemukan tokoh-tokoh era Orde Baru, reformasi, hingga tokoh muda inspiratif, Presiden ingin membangun jembatan gagasan. Isu-isu strategis mulai dari swasembada pangan, ketahanan energi, hingga posisi non-blok Indonesia dalam konflik Iran-Israel diprediksi akan menjadi menu utama di meja diskusi tersebut.
Ruang ini juga dirancang sebagai “katup pengaman” sosial. Dengan merangkul tokoh yang kerap berseberangan, Prabowo sedang menetralisir potensi kegaduhan di tingkat akar rumput dengan menunjukkan bahwa di level elit, komunikasi tetap cair dan penuh hormat.
Menuju “The Grand Coalition” Rakyat
Bagi para analis, undangan ini adalah manifestasi dari janji kampanye Prabowo mengenai “persatuan nasional”. Namun, tantangannya adalah memastikan bahwa ruang diskusi ini menghasilkan kebijakan konkret, bukan sekadar foto bersama yang ikonik. Rakyat menunggu apakah pemikiran para tokoh bangsa ini akan benar-benar meresap ke dalam program kerja kementerian atau hanya berakhir sebagai arsip negara.
Catatan Akhir: Jembatan Emas atau Sekadar Formalitas?
Undangan Presiden Prabowo kepada para tokoh bangsa adalah sinyal bahwa ia ingin memimpin dengan “telinga yang terbuka”. Jika dikelola dengan benar, ruang diskusi lintas generasi ini bisa menjadi jembatan emas menuju Indonesia Emas 2045. Namun, jika ini hanya berakhir sebagai ajang temu kangen para elit, maka ia hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah kepresidenan yang gemar berdiskusi tanpa eksekusi. Prabowo sedang bertaruh dengan waktu, dan rakyat sedang memegang tiket menonton paling depan.
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
Optimisme Dingin di Tengah “Kekacauan” Global



