MATARAM SEDANG MENCOBA merombak genetika Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dari beban statistik pengangguran menjadi mesin penggerak ekonomi yang lincah. Dalam kunjungan ke SMKN 1 Gerung, Lombok Barat, pada Kamis, 26 Februari, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal melontarkan visi yang pragmatis: link and match bukan lagi sekadar jargon retoris, melainkan “hukum wajib” bagi pendidikan vokasi. Strategi Iqbal jelas—ia ingin memutus rantai “ijazah kosong” dengan menyuntikkan sertifikasi kompetensi internasional dan fleksibilitas finansial melalui status Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
Bagi Pemerintah Provinsi NTB, tantangannya adalah sinkronisasi. Saat permintaan komoditas untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) melonjak—di mana pasokan telur lokal baru menyentuh angka 30%—SMK dituntut tidak hanya mencetak lulusan, tetapi menjadi penyedia solusi suplai. Ini adalah pergeseran paradigma dari sekolah sebagai pusat biaya (cost center) menjadi unit produksi yang responsif terhadap pasar.
Audit Strategis: Transformasi SMK NTB Menuju Global Market 2026
Analisis ini membedah sinergi antara sertifikasi profesi, pengalaman kerja riil, dan peluang ekonomi baru di sektor pangan.
Sertifikasi: Melampaui Batas Ijazah
Langkah Gubernur Iqbal menyubsidi sertifikasi LSP adalah investasi dengan imbal hasil tinggi (high-yield investment). Di dunia kerja global, ijazah SMK sering kali dipandang sebelah mata tanpa adanya bukti kompetensi teknis yang diakui secara internasional, seperti sertifikasi pengelasan (welding). Dengan menyediakan “tiket” ini, NTB sedang mempersiapkan prajurit ekonominya untuk tidak hanya bertarung di pasar lokal, tapi juga mengisi ceruk pasar kerja di luar negeri yang haus akan tenaga ahli bersertifikat.
Peluang Emas di Balik Piring Makan Gratis
Sorotan Iqbal mengenai defisit suplai telur untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah sebuah instruksi bisnis bagi SMK. Dengan memposisikan SMK sebagai bagian dari rantai pasok (supply chain) MBG, sekolah tidak hanya memberikan pelajaran praktik bagi siswa jurusan pertanian dan peternakan, tetapi juga melatih mereka dalam manajemen bisnis riil melalui payung BLUD. Ini adalah cara paling elegan untuk menekan angka pengangguran: dengan menjadikan siswa sebagai pelaku usaha sebelum mereka resmi lulus.
Vonis Strategis:
NTB sedang berupaya mengakhiri era di mana lulusan SMK hanya menjadi penonton dalam pembangunan. Dengan dukungan infrastruktur yang dijanjikan dalam dua tahun ke depan dan keterlibatan langsung dalam proyek pemerintah, SMK di NTB diarahkan untuk menjadi lembaga yang mandiri dan kompetitif. Sante saja dulu, karena jika transformasi BLUD dan sertifikasi massal ini berjalan mulus, Gerung akan segera mengirimkan lebih banyak tenaga ahli bersertifikat daripada pencari kerja amatir.
BACA JUGA:
Rinjani Bukan Bukit Teletubbies: Gubernur Iqbal dan Strategi Menyingkirkan Pendaki “Low Budget”BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
Turbocharger Ekonomi: Menakar Ambisi “Chip Design” Indonesia di London


