MATARAM SEDANG mendefinisikan ulang takdir ekonominya di pesisir. Dalam tahun pertama kepemimpinan Lalu Muhamad Iqbal dan Indah Dhamayanti Putri (Iqbal–Dinda), Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak lagi sekadar memandang laut sebagai hamparan biru penyumbang statistik komoditas primer. Periode 2025 menjadi saksi transformasi struktural, di mana angka produksi sebesar 1,25 juta ton bukan lagi tujuan akhir, melainkan bahan bakar bagi mesin industri agrokemaritiman yang mulai dipanaskan.
Narasi besar yang diusung Jakarta dan Mataram kini bergeser dari “penangkapan” menuju “pengolahan”. Kenaikan Nilai Tukar Perikanan (NTP) ke angka 106,82 adalah indikator kunci bahwa efisiensi mulai merayap masuk ke rumah tangga nelayan. Namun, ujian sesungguhnya bagi visi Iqbal–Dinda terletak pada keberhasilan transisi dari ekspor bahan mentah menuju penciptaan nilai tambah domestik—sebuah lompatan yang dimulai dari pabrik garam di Bima hingga rencana ambisius pengolahan udang terintegrasi.
Audit Strategis: Konsolidasi Sektor Kelautan & Perikanan NTB 2025
Analisis ini membedah keseimbangan antara lonjakan output produksi dengan resiliensi ekonomi pelaku usaha dan keberlanjutan ekosistem.
*Geser Tabel
Regulasi Sebagai Perisai Ekonomi
Pengesahan Perda Nomor 14 Tahun 2025 bukan sekadar urusan administratif. Ini adalah penegasan kedaulatan 12 mil laut NTB. Dengan memperkuat izin berbasis risiko, Pemprov sedang melakukan filterisasi terhadap investasi yang masuk: hanya modal yang menghargai daya dukung lingkungan yang diizinkan berlabuh. Keberadaan 12 kawasan konservasi di bawah 3 BLUD menunjukkan bahwa perlindungan ekosistem tidak lagi menjadi biaya (cost), melainkan investasi jangka panjang untuk menjamin keberlanjutan produksi rumput laut dan udang.
Paradigma Udang dan Masa Depan Bima
Langkah pemerintah daerah menyiapkan Feasibility Study (FS) pabrik pengolahan udang terintegrasi adalah sinyal berakhirnya era “jual udang mentah”. Dengan menyediakan insentif fiskal dan fasilitasi lahan, Iqbal–Dinda sedang mencoba menarik modal untuk menetap lebih lama di NTB. Jika pabrik pengolahan ini terealisasi, rantai nilai udang—yang selama ini dinikmati pabrik-pabrik di luar daerah—akan terkunci di NTB, menciptakan lapangan kerja bagi ribuan pemuda pesisir.
Vonis Strategis:
Tahun pertama Iqbal–Dinda telah berhasil menanam “benih” regulasi dan infrastruktur. Namun, Sante, Lur! Mengubah wajah ekonomi maritim tidak secepat menarik jaring di laut. Tantangan terbesar tahun depan adalah memastikan investasi pabrik pengolahan udang tidak sekadar berhenti di atas kertas DED. Keberhasilan hilirisasi garam di Bima adalah blueprint yang sukses; kini publik menunggu apakah keberhasilan serupa bisa diduplikasi pada sektor udang dan rumput laut untuk menjadikan NTB sebagai raksasa agrokemaritiman Indonesia Timur.
Baca juga: The 2025 Labor Paradox: Satu Tahun Iqbal–Dinda dan Ilusi Angka




