JAKARTA — Di tengah hiruk-pikuk penataan APBN 2026, sebuah kabar dingin datang dari Lapangan Banteng. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi mengetok angka Indonesian Crude Price (ICP) Desember 2025 di level **US$ 61,10 per barel**. Angka ini menunjukkan kontraksi sebesar US$ 1,73 dibandingkan bulan sebelumnya—sebuah cermin dari meluapnya pasokan minyak dunia yang kini menghantui pasar global dengan narasi super glut.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaeman, mengonfirmasi bahwa kejatuhan harga ini adalah dampak dari banjir pasokan yang tak terbendung, terutama dipicu oleh rekor produksi Amerika Serikat dan peningkatan output dari negara-negara OPEC+.
”Penurunan angka ICP pada bulan Desember 2025 diakibatkan kekhawatiran pasar akan narasi super glut atau kelebihan pasokan, serta kondisi oversupply minyak dunia yang dipengaruhi oleh produksi Amerika Serikat yang tinggi,” ujar Laode Sulaeman dalam keterangan resmi, Jumat (16/1/2026).
Namun, anomali ini bukan tanpa alasan lain. Selain faktor produksi AS yang menggila, peningkatan produksi OPEC+ pada November 2025 menjadi 43,1 juta barel per hari (bph) turut menjadi katalisator. Di sisi lain, mendinginnya “mesin” industri Tiongkok dengan penurunan crude throughput menjadi 14,86 juta bph—titik terendah dalam enam bulan terakhir—memaksa harga minyak mentah Indonesia terjun ke titik yang mengkhawatirkan bagi neraca ekspor.
”Penurunan ICP bulan Desember disebabkan peningkatan suplai minyak dunia,” tegas Laode.
Penurunan harga ini juga didorong oleh faktor geopolitik yang mulai melunak di Eropa Timur. Meredanya ketegangan Rusia-Ukraina pasca pembatalan aspirasi bergabung ke NATO oleh Kyiv, serta proyeksi kenaikan produksi Rusia tahun 2026 yang menyentuh angka 10,54 juta bph, menjadi sinyal kuat bahwa pasokan minyak akan terus “membanjiri” pasar dalam waktu dekat.
“Harga ICP turun, pejabat senyum. Harga ICP naik, rakyat yang bingung. Padahal di era ‘Super Glut’ ini, masalah kita tetap sama: sibuk menghitung harga barel orang lain sementara kilang sendiri belum juga mandiri. Selamat datang di era kelebihan pasokan; saat minyak melimpah, tapi kedaulatan masih harus impor.”
Artikel ini diolah berdasarkan rilis berita resmi yang diterbitkan oleh Portal Komunikasi Publik (InfoPublik.id).




