Jika Premier League adalah panggung bagi para sultan yang hobi menghamburkan uang demi pemain medioker, maka Serie A adalah panggung bagi Inter Milan untuk memamerkan cara bertahan hidup yang elegan. Sambil kita menanti drama di tanah Inggris, mari tengok bagaimana Inter melakukan “Audit Prestasi” dengan anggaran yang bikin dahi mengkerut.
Kunci sukses Inter bukan terletak pada seberapa dalam saku pemiliknya, melainkan pada seberapa tajam mata Beppe Marotta. Marotta adalah tipe orang yang bisa masuk ke pameran mobil mewah, tidak membeli apa-apa, tapi pulang-pulang membawa kunci Ferrari yang dia dapatkan secara gratis karena “kesepakatan tertentu”.
Lihat saja skuad mereka. Dari Marcus Thuram hingga Hakan Calhanoglu, Inter mengumpulkan pemain-pemain yang dianggap “sudah habis” atau “buangan” oleh klub lama mereka, lalu menyulapnya menjadi mesin pemenang gelar. Ini bukan sekadar keberuntungan; ini adalah sistem yang disiplin.
“Inter Milan membuktikan bahwa gelar juara tidak selalu dibeli dengan uang tunai, tapi bisa dibayar dengan kecerdasan negosiasi dan sistem yang mapan.”
Berbeda dengan Arteta di Arsenal yang masih dikritik “mental asisten” karena terlalu patuh pada buku teks, Inter saat di bawah Simone Inzaghi justru bermain dengan fleksibilitas seorang pengusaha ulung. Mereka tahu kapan harus bertahan sekuat baja, dan kapan harus menyerang secepat kilat.
Di Italia, Anda tidak perlu menjadi yang paling kaya untuk menjadi yang terbaik. Anda hanya perlu menjadi yang paling pintar dalam membaca sistem—sebuah nilai yang selalu kami tekankan di kanal GET SPORT.
Baca juga: Mikel Arteta dan Kutukan “Bayang-bayang Pep” yang Bikin Fans Arsenal Susah Tidur Nyenyak




