“Jika birokrasi NTB adalah sebuah mesin diesel yang sering batuk, maka Abul Chair adalah mekanik yang tahu persis baut mana yang harus dikencangkan tanpa harus merusak sasis. Ia bukan sekadar birokrat ‘Yes-Man’, tapi navigator yang berani berdebat demi keselamatan kapal pembangunan.”
AMBARA — Bursa calon Sekda NTB bukan lagi sekadar adu pangkat, melainkan adu “chemistry” kepemimpinan. Dalam audit kali ini, nama Abul Chair mencuat sebagai kandidat yang paling sinkron dengan frekuensi Gubernur saat ini. Birokrasi hari ini tidak butuh sekadar administrator, tapi seorang “Dirigen” yang bisa menjaga tempo pembangunan tetap kencang di tengah tantangan fiskal daerah.
Audit Sinkronisasi: Visi Gubernur vs Kompetensi Abul Chair
Analisis getnews. menunjukkan bahwa Abul Chair memiliki kemampuan “Bilingual Policy”. Ia fasih menerjemahkan visi politik pimpinan ke dalam dialek teknis operasional yang dimengerti oleh ribuan ASN di Bumi Gora.
Membedah KTP Birokrasi: Rekam Jejak Pengabdian
Banyak yang bertanya mengenai asal-usul dan jasa Abul Chair bagi NTB. Menjawab keraguan publik dan isu “putra daerah”, AMBARA menyajikan fakta transparan mengenai karir panjangnya yang sudah “berkeringat” di berbagai pos vital di Bumi Gora.
Baca juga: Diplomasi Botol Mineral: Sheriff Dunia Kumat, Kedaulatan atau Sekadar Konten Truth Social?
Bukan Soal Akta Lahir, Tapi Kerja Nyata
Bagi AMBARA, syarat menjadi Sekda bukan soal di mana Anda dilahirkan, tapi soal di mana keringat Anda dicurahkan. Abul Chair mungkin tidak lahir dari rahim politik yang bising, tapi ia besar di rahim birokrasi NTB yang keras. Jika rekam jejaknya membuktikan ia lebih memahami denyut nadi NTB daripada mereka yang hanya menjual sentimen kedaerahan, lantas apa lagi yang perlu diperdebatkan? Kursi Sekda butuh otak dan nyali, bukan sekadar akta kelahiran.




