PANGKEP — Memasuki hari kelima, operasi SAR pesawat ATR 42-500 PK-THT di Gunung Bulusaraung mencapai titik krusial. Tim SAR Gabungan mengonfirmasi temuan korban ketiga di antara Sektor 1 dan Sektor 4 pada Rabu (21/1/2026). Temuan ini mempertegas bahwa puing utama dan korban terkonsentrasi di wilayah tebing yang paling sulit dijangkau.
Analisis Sektor: Mengapa Sektor 1 & 4?
Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI (Purn) Mohammad Syafii, mengungkapkan bahwa penyisiran kini dipertajam pada area irisan Sektor 1 dan 4. Pilihan ini didasarkan pada sebaran serpihan pesawat yang mengindikasikan benturan keras (high-impact) pada dinding pegunungan. Kondisi korban ketiga yang ditemukan tidak utuh (body part) menjadi indikator teknis besarnya energi kinetik saat insiden terjadi.
Hingga saat ini, dari tiga temuan, baru satu jenazah yang berhasil diidentifikasi secara utuh atas nama Florencia Lolita Wibisono, pramugari yang jenazahnya dijadwalkan diterbangkan ke Jakarta malam ini. Sementara itu, identitas korban pertama (laki-laki) dan temuan terbaru masih menunggu proses DVI (Death Victim Identification) di Makassar.
Sumber: Basarnas
“Di ketinggian Bulusaraung, waktu seolah berhenti. Setiap serpihan yang ditemukan bukan sekadar data, melainkan jembatan bagi kepastian keluarga yang menanti di ujung doa.”
Dogma Digital — Penemuan di Sektor 4 adalah audit terhadap ketangguhan tim SAR. Getnews melihat temuan ini bukan sekadar statistik jumlah korban, melainkan bukti keberhasilan strategi pemetaan zona yang akurat. Meski medan Bulusaraung dikenal tak kenal ampun dengan cuaca ekstremnya, konsistensi di lapangan adalah kunci. Kehormatan tertinggi bagi para relawan yang bekerja dalam sunyi, mengumpulkan serpihan demi serpihan, demi memberikan penghormatan terakhir yang layak bagi para penumpang PK-THT.




