ANALISIS GETNEWS EKRAF NEWS

Audit Paradigma Ekraf 2026: Transformasi Hexahelix dan Inisiasi Indonesia Creative Content Fund (ICCF)

Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menerima audiensi Direktur Pengembangan Produksi Film Negara (PFN), Narliswandi Iwan Piliang, yang berlangsung di kantor Kementerian Ekonomi Kreatif, Jakarta, Rabu (24/12/2025). (EKRAF/GETNEWS+)

Executive Summary

Getnews+ Macro-Economic Desk identifies a pivotal shift in Indonesia’s creative economy as the Ministry of Creative Economy (Bekraf) pivots toward a ‘Hexahelix’ collaboration model. By formally integrating financial institutions into the ecosystem, Minister Teuku Riefky Harsya aims to unlock the liquidity of Intellectual Property (IP) as a viable financial instrument.

A key strategic highlight is the revitalization of the Indonesia Creative Content Fund (ICCF) and the repositioning of Produksi Film Negara (PFN) as a sovereign Content Data Center. This move addresses the long-standing “non-bankable” nature of creative assets through venture capital mechanisms and IP-based collateral, signaling a robust Growth Mode for Indonesia’s film, gaming, and application subsectors in the 2026 fiscal year.

JAKARTA, getnews. — Di puncak gedung Autograph Tower Thamrin Nine, sebuah cetak biru baru bagi industri kreatif Indonesia sedang dirumuskan. Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Bekraf, Teuku Riefky Harsya, secara resmi memperkenalkan transisi ekosistem dari Pentahelix menjadi Hexahelix. Perubahan ini bukan sekadar semantik; ini adalah pengakuan formal bahwa lembaga keuangan kini menjadi pilar keenam yang menentukan keberlanjutan industri kreatif nasional.

​”Kementerian Ekraf tak henti memperjuangkan bagaimana Intellectual Property (IP) bisa menjadi jaminan. Meski saat ini masih berstatus sebagai pendukung, target kita adalah menjadikan IP sebagai instrumen jaminan utama (collateral),” tegas Menteri Teuku Riefky dalam audiensi strategis bersama Direktur Pengembangan PFN, Narliswandi Iwan Piliang.

​Langkah ini diambil untuk menjawab tantangan fundamental: Kesenjangan Modal. Industri konten kreatif seringkali dianggap non-bankable karena sifatnya yang tidak memiliki aset fisik tetap. Solusi yang ditawarkan adalah pembentukan Venture Capital riil yang mampu melihat “gagasan nilai” dari pengembangan IP, didukung oleh inisiasi Indonesia Creative Content Fund (ICCF).

Getnews+ Signature Data Audit: Arsitektur Pendanaan Ekraf 2026

Getnews+ Strategic Audit: Creative Economy Funding Framework
Instrumen SolusiMekanisme UtamaStatus 2026
Hexahelix CollaborationLembaga Keuangan & PemerintahImplementasi Aktif
ICCF (Creative Fund)Dana Bergulir & KontenFase Kajian Intensif
KUR EkrafKredit Usaha RakyatIntegrasi Kemenko
IP-Based FinancingHak Kekayaan IntelektualCollateral Support
*Analisis berdasarkan audiensi strategis KemenEkraf & PFN, Jakarta, Des 2025.

Intelijen Bisnis: PFN Sebagai ‘Sovereign Content Center’

Getnews mencatat peran vital PFN yang kini didorong menjadi pusat data konten negara (post data center). Dengan pengembangan Indonesia Film Facilitation (IFF), PFN tidak lagi sekadar rumah produksi, melainkan fasilitator ekosistem yang menghubungkan talenta lokal dengan pasar global. Sinergi ini diharapkan mampu menarik modal ventura internasional yang berbasis pada valuasi ide, bukan sekadar aset fisik.

​Di awal 2026, kajian insentif untuk subsektor prioritas—Film, Gim, dan Aplikasi—akan menjadi “pintu masuk” bagi investor. Ini adalah momen di mana kreativitas bertemu dengan kalkulasi finansial yang presisi, menempatkan ekonomi kreatif Indonesia dalam lintasan Growth Mode yang sesungguhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *