Executive Summary
Getnews+ Market Audit presents the latest staple food price index across Lombok and Sumbawa Islands as of January 2, 2026. While prices in Lombok remain relatively stable due to shorter supply chains from the capital, Sumbawa experiences a “Logistical Premium” with a 5-12% price increase in commodities such as chili and cooking oil. This audit highlights the urgent need for maritime logistic optimization to synchronize price stability across West Nusa Tenggara.
GET DATA: Dinamika Harga di Jantung NTB
GET DATA — Memasuki pekan pertama Januari 2026, stabilitas harga bahan pokok di Nusa Tenggara Barat (NTB) menunjukkan tren yang bervariasi. Pantauan tim getnews. di sejumlah pasar induk seperti Pasar Kebon Roek (Lombok) dan Pasar Seketeng (Sumbawa) menunjukkan adanya tekanan pada komoditas hortikultura akibat faktor cuaca dan biaya distribusi antar-pulau.
1. Komoditas Cabai: “Si Pedas” yang Fluktuatif
Di Pulau Lombok, harga cabai rawit mulai melandai di kisaran Rp45.000/kg. Namun, di Pulau Sumbawa, khususnya wilayah timur seperti Bima dan Dompu, harga masih tertahan di angka Rp52.000/kg. Disparitas ini disebabkan oleh ketergantungan pasokan yang masih didatangkan dari luar pulau melalui jalur penyeberangan laut.
2. Stabilitas Beras dan Gula
Berkat stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang melimpah, harga beras medium di kedua pulau tetap terjaga pada HET (Harga Eceran Tertinggi). Sementara itu, minyak goreng curah mengalami sedikit kenaikan akibat tingginya permintaan konsumsi rumah tangga di awal tahun.
Getnews+ Signature Data: Staple Price Index (Lombok vs Sumbawa)
Refleksi GET DATA:
Angka di atas menunjukkan bahwa Pulau Sumbawa masih menanggung beban logistik yang lebih berat dibandingkan Pulau Lombok. Tanpa intervensi pada kelancaran arus barang di Pelabuhan Kayangan-Poto Tano, disparitas harga ini akan terus menekan daya beli masyarakat Sumbawa. Pemerintah Provinsi perlu melakukan “audit logistik” untuk memastikan efisiensi biaya angkut bahan pokok antar-pulau.




