Executive Summary
Getnews+ Ambara Insightdissects the latest political absurdity: the allegation of a secret collaboration between Indonesia’s 5th President, Megawati Soekarnoputri, and 6th President, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), to revive the controversy surrounding President Jokowi’s academic credentials. Our audit identifies this narrative as a “High-Absurdity Political Fiction,” given the historical icy relations between the two figures. SBY, through his representatives, has signaled a potential legal recourse to sanitize his reputation from these manufactured conspiracies at the close of the 2025 political cycle.
Pak SBY yang Terganggu, Kita yang Bingung Mau Ketawa atau Heran
AMBARA — Di dunia politik, ada hal-hal yang sulit terjadi: minyak bersatu dengan air, atau melihat Pak SBY dan Ibu Megawati duduk santai sambil makan bakso bareng membicarakan masa lalu. Namun, bagi para kreator fitnah, tidak ada yang tidak mungkin.
Baru-baru ini, Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dibuat naik pitam. Pasalnya, beliau dituduh sedang melakukan “operasi senyap” bersama Ibu Megawati untuk memunculkan kembali isu ijazah palsu milik Jokowi. Tuduhan ini layaknya naskah film action-comedy kelas tiga: plotnya maksa, logikanya berantakan, tapi sukses bikin Pak SBY merasa sangat terganggu.
Melalui Andi Arief, SBY memberikan sinyal “Lampu Kuning” alias ancaman jalur hukum bagi mereka yang kreativitasnya kelewat batas dalam memfitnah. Sebab, bagi SBY, hubungan beliau dengan Jokowi saat ini sedang dalam kondisi “baik-baik saja”, bukan seperti judul lagu galau yang sering dikaitkan dengan beliau di masa lalu.
Getnews+ Signature Data: Audit Kelayakan Teori Konspirasi
Refleksi AMBARA:
Sebenarnya kita patut mengapresiasi si pembuat fitnah. Mereka berhasil melakukan apa yang gagal dilakukan oleh banyak negosiator politik selama puluhan tahun: menyatukan nama SBY dan Megawati dalam satu proyek yang sama—meskipun proyeknya cuma urusan ijazah.
Kalau Pak SBY sampai benar-benar lapor polisi, mungkin ini akan jadi babak baru dalam hukum pidana kita: “Laporan Pencemaran Nama Baik atas Dasar Kolaborasi Fiktif”. Pesan kami dari AMBARA untuk para tukang fitnah: kalau mau bikin skenario, tolong riset dulu seberapa dingin suhu politik di Jalan Teuku Umar dan Cikeas. Jangan asal campur!




