PANGKEP, getnews.co.id — Harapan tipis yang tersisa sejak Sabtu kemarin kini bermuara pada kenyataan pahit di lereng utara Gunung Bulusaraung. Tim SAR Gabungan akhirnya berhasil menembus titik koordinat utama bangkai pesawat Indonesia Air Transport (IAT) PK-THT pada ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut (MDPL). Di sana, di antara celah tebing karst yang curam, puing-puing ATR itu menjadi saksi bisu sebuah insiden yang oleh otoritas penerbangan disebut sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT).
Hancurnya Mata Navigasi
Temuan awal KNKT di lapangan memberikan jawaban mengapa pesawat seolah raib tanpa jejak sejak Sabtu siang. Perangkat Emergency Locator Transmitter (ELT)—mata darurat yang seharusnya memancarkan sinyal posisi—ditemukan hancur berkeping akibat benturan keras dengan dinding batu.
”Pesawat menabrak lereng dalam kondisi mesin aktif. Tidak ada sinyal darurat yang terpancar karena unit pemancarnya hancur seketika saat impact terjadi,” ujar sumber otoritas penerbangan yang memantau audit teknis di lokasi.
Pertarungan Melawan Kabut Orografik
Operasi evakuasi hingga pukul 15.00 WITA masih menjadi medan pertempuran melawan alam. Helikopter Caracal TNI AU beberapa kali harus mengurungkan niat untuk melakukan dropping personel. Jarak pandang yang hanya berkisar 5 hingga 10 meter akibat selimut kabut orografik memaksa tim SAR berpaling sepenuhnya pada jalur darat.
Sebanyak 1.200 personel kini merayap di tebing-tebing terjal Balocci. Tim DVI Biddokes Polda Sulsel juga telah mendirikan tenda-tenda identifikasi di Posko Desa Tompo Bulu, menanti kepastian dari tim evakuasi yang sedang berjibaku dengan tali-tali mountaineering.
Daftar Manifes: 10 Jiwa di Balik Tragedi
Berikut adalah data manifes resmi korban yang berada di dalam penerbangan maut tersebut:




