PENGANTAR ANALITIS
Jika dunia hari ini adalah sebuah orkestra yang sumbang, Gita Wirjawan melalui What It Takes mencoba menawarkan partitur baru bagi Asia Tenggara. Mantan Menteri Perdagangan ini tidak sedang menjual janji kosong; ia menyajikan diagnosis tajam bahwa “pusat dunia” sedang bergeser ke arah timur. Namun, alih-alih bersorak, Gita mengingatkan bahwa tiket menuju kejayaan itu tidak gratis. Ia menuntut mahar berupa penguatan institusi, literasi yang radikal, dan kepemimpinan yang berani keluar dari zona nyaman komoditas mentah.
Narasi “Great Decoupling” dan Nasib ASEAN
Gita membedah fenomena decoupling antara AS dan China bukan sebagai ancaman semata, melainkan celah sempit bagi Indonesia. Di saat para raksasa sedang sibuk “adu otot” tarif dan teknologi, Asia Tenggara punya momentum untuk menjadi pelabuhan aman bagi modal dan ide.
- The Talent War: Gita sangat terobsesi pada kualitas manusia. Baginya, infrastruktur beton tanpa infrastruktur otak hanyalah monumen pemborosan.
- Economic Complexity: Indonesia harus berhenti bangga sekadar mengeruk perut bumi. Tanpa kompleksitas ekonomi—kemampuan membuat barang yang sulit dibuat orang lain—kita hanya akan menjadi “pembantu” di rumah sendiri saat revolusi semikonduktor dan AI meledak.
“Ukuran pasar yang besar hanyalah fatamorgana jika penghuninya hanya menjadi konsumen teknologi bangsa lain. Kita tidak butuh sekadar jumlah; kita butuh literasi yang radikal.”
Indonesia 2026: Antara Ambisi Arm dan Realitas Sapi
Membaca buku ini sambil melihat berita pagi tadi menciptakan kontras yang menggelitik. Di satu sisi, Presiden Prabowo di London sedang menjajaki desain chip bersama Arm Limited—sebuah langkah yang sangat “Gita Wirjawan banget” (hilirisasi otak). Namun di sisi lain, kita masih berkutat dengan polemik Badan Gizi Nasional yang sibuk menghitung jumlah sapi dan lele harian.
Buku ini seolah berbisik: What it takes untuk jadi pemimpin dunia bukanlah sekadar memastikan perut kenyang dengan sapi impor, tapi memastikan otak anak bangsa mampu mendesain sistem yang membuat dunia bergantung pada kita. Jangan sampai kita terjebak dalam “Middle Income Trap” karena terlalu sibuk mengurus urusan administratif, sementara negara tetangga sudah mulai memanen modal dari Intellectual Property (IP).
*Geser Tabel
VONIS INTELEKTUAL
What It Takes adalah tamparan bagi siapa saja yang masih berpikir bahwa Indonesia akan otomatis menjadi raksasa hanya karena jumlah penduduknya banyak. Gita Wirjawan menegaskan bahwa ukuran bukanlah segalanya—Singapura sudah membuktikan itu. Tanpa keberanian untuk membersihkan birokrasi dari “penumpang gelap” (ASN siluman) dan tanpa fokus pada penciptaan nilai tambah teknologi (chip Arm), Indonesia hanya akan menjadi pasar besar yang terus-menerus didikte oleh kepentingan global, baik itu lewat draf 45 halaman Washington maupun modal dari Yavne.
Masa depan Asia Tenggara adalah sebuah kompetisi otak. Pilihannya hanya dua: mendidik anak bangsa untuk mendesain masa depan, atau membiarkan mereka tetap menjadi penonton di barisan paling belakang.
“Hilirisasi beton tanpa hilirisasi otak hanyalah monumen pemborosan. Masa depan Indonesia bukan di perut bumi, tapi pada kompleksitas intelektual anak bangsanya.”
Further reading: Lawatan ke Washington, Presiden Prabowo Kantongi Kesepakatan Investasi US$ 38,4 Miliar




