Statistik pertumbuhan ekonomi dan angka-angka manis di atas kertas yang dipamerkan Presiden Prabowo baru saja dihantam kenyataan pahit dari sebuah kabupaten di NTT bernama Ngada. Seorang siswa SD memilih mengakhiri hidupnya hanya karena tak mampu membeli buku dan pulpen. Kejadian ini memicu Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, untuk menulis surat “cinta” kepada UNICEF.
Isi suratnya tidak main-main. Tiyo tidak lagi bicara soal sopan santun birokrasi, melainkan langsung menuding hidung kekuasaan. Baginya, kematian bocah tersebut adalah bukti otentik bahwa pemerintah telah gagal total dalam menentukan prioritas kemanusiaan. Di saat triliunan rupiah digelontorkan untuk program populis, ada anak bangsa yang harus mati karena urusan alat tulis.
Surat Tiyo kepada UNICEF ini seolah menjadi tamparan keras bagi narasi “Indonesia Maju” yang kerap didengungkan. BEM UGM menilai Presiden Prabowo buta pada realitas lapangan dan enggan belajar dari tragedi kecil yang sebenarnya adalah kegagalan besar negara.
Mengatakan seorang presiden “bodoh” di hadapan badan PBB tentu punya konsekuensi politik yang panjang. Namun bagi mahasiswa, ini adalah bentuk keputusasaan yang sudah mencapai puncaknya. Apa gunanya makan gratis setiap hari jika biaya pendidikan dasar masih membuat nyawa melayang? Program Rp1,2 triliun per hari itu kini dipandang bukan sebagai solusi, melainkan sebagai “ladang korupsi” yang menggerogoti hak dasar anak-anak di pelosok seperti Ngada.
Selamat berurusan dengan UNICEF, Pak Presiden. Semoga surat dari Bulaksumur ini bisa membuat kacamata pemerintah lebih jernih melihat mana yang benar-benar “bergizi” bagi bangsa: makanan di piring, atau harapan di ujung pulpen.




