Menjadi ASN di lingkup Pemprov NTB belakangan ini rasanya seperti sedang main ular tangga, tapi dadunya dipegang orang lain. Kita sudah capek-capek naik tangga lewat jalur prestasi dan diklat, eh, tahu-tahu kena “patok ular” mutasi gara-gara angin politik lagi nggak enak badan.
Di koridor Gedung Putih Jalan Pejanggik, obrolan pagi bukan lagi soal realisasi anggaran atau target PAD, melainkan bisik-bisik tetangga: “Eh, dengar-dengar si Anu digeser ke pojokan, ya? Padahal kemarin baru saja pasang foto bareng atasan.” ### Birokrasi Rasa “Musical Chairs”
Mutasi itu idealnya kayak ganti oli mesin; biar tarikannya makin enteng. Tapi di sini, mutasi seringkali lebih mirip permainan musical chairs di acara ulang tahun anak-anak. Musik diputar, semua ASN berputar-putar cemas, dan begitu musik berhenti (baca: SK keluar), ada yang dapat kursi empuk, ada yang terpaksa duduk di lantai karena kursinya tiba-tiba hilang ditarik kepentingan.
Labelnya selalu mentereng: “Penyegaran Organisasi”. Tapi ya kita tahu sama tahu lah, kesegaran buat siapa dulu? Kalau yang digeser adalah orang-orang yang kritis dan yang naik adalah mereka yang pandai “menyesuaikan frekuensi”, itu namanya bukan penyegaran, tapi sterilisasi.
Berikut adalah tabel audit biar kelihatan sedikit serius di tengah kegaduhan ini:
*geser tabel
Prestasi Kalah Sama “Koneksi”
Pada akhirnya, para ASN kita dipaksa belajar ilmu kebatinan tingkat tinggi. Harus pinter-pinter menebak mood Sang Pemegang Pulpen. Mau kerja sampai tipes pun, kalau “garis tangan” politiknya nggak cocok, ya wassalam.
Polemik mutasi ini bukan cuma soal siapa yang jadi Kepala Dinas atau siapa yang jadi staf biasa. Ini soal marwah birokrasi yang makin hari makin kayak dagelan. Kalau aturannya cuma jadi pajangan dan selera personal jadi panglima, jangan salahkan kalau nanti pelayanan publik kita jadi ikut-ikutan “moody”.
Selamat bekerja untuk para ASN NTB. Tetaplah mengabdi, meski nasibmu ditentukan oleh satu bisikan di telinga yang tepat, bukan oleh tumpukan piagam di dinding kantormu.




