JAKARTA, GETNEWS. – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan fenomena La Nina lemah yang memicu peningkatan curah hujan saat ini akan segera berakhir pada akhir kuartal pertama 2026. Setelah periode tersebut, kondisi iklim global di Samudra Pasifik (ENSO) dan Samudra Hindia (IOD) diperkirakan beralih ke fase netral hingga pengujung tahun 2026.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyebutkan bahwa transisi ke fase netral ini meminimalkan potensi anomali laut dominan yang biasanya memicu hujan ekstrem secara luas di tanah air.
Proyeksi Dinamika Laut & Suhu Udara 2026
Kombinasi fenomena alam di awal tahun akan memberikan efek pendinginan sementara sebelum memasuki kondisi stabil di sisa tahun 2026.
| Parameter Iklim | Proyeksi Tahun 2026 |
|---|---|
| Fenomena La Nina | Diprediksi berakhir pada akhir Kuartal I (Maret 2026). |
| Status ENSO & IOD | Fase Netral hingga akhir tahun (tidak ada anomali dominan). |
| Suhu Udara Rata-rata | Nasional: 25–29°C | Dataran Tinggi: 19–22°C. |
Tahun 2026 Diprediksi “Lebih Sejuk”
BMKG menegaskan bahwa tahun 2026 diprediksi tidak akan sepanas tahun-tahun sebelumnya. Kehadiran La Nina di awal tahun memberikan kontribusi signifikan terhadap efek pendinginan permukaan bumi di wilayah Indonesia. Wilayah dataran tinggi seperti Bukit Barisan, Latimojong, dan Pegunungan Jayawijaya diprakirakan akan menikmati suhu udara yang lebih sejuk di kisaran 19–22 derajat Celsius.
BMKG berkomitmen untuk terus memantau dinamika laut global sebagai kunci utama prediksi iklim nasional yang akurat demi mendukung langkah mitigasi berbagai sektor strategis.
infopublik.id




