NEWS

Bonus Demografi tak Otomatis Untung, LKI 2025 Jadi Instrumen Strategis

Tiga Isu Bidang Kependudukan (ist)

JAKARTA, getnews – Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) menegaskan bahwa Laporan Kependudukan Indonesia (LKI) 2025 adalah instrumen strategis untuk mengawal pembangunan nasional yang berfokus pada manusia, sejalan dengan visi Presiden dan Wakil Presiden.

​Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kemendukbangga/BKKBN, Bonivasius Prasetya Ichtiarto, menyatakan bahwa LKI tidak hanya menjadi produk kebijakan lokal tetapi juga referensi global yang dipresentasikan rutin di Markas Besar PBB, New York.

“Laporan ini tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga menjadi bagian dari diskursus kependudukan global,” ujar Bonivasius dalam Diseminasi LKI 2025 di Jakarta, Senin (15/12/2025).

Dua Ancaman Kependudukan dan Tantangan Bonus Demografi

​Bonivasius menyoroti dua isu besar kependudukan yang kini dihadapi Indonesia dan dunia:

  1. Low Fertility (Penurunan Tingkat Fertilitas): Indonesia harus waspada terhadap tren penurunan ini, mencontoh negara-negara seperti Jepang, Korsel, dan Thailand yang sulit memulihkan angka fertilitas di bawah 1,5.
  2. Aging Population (Penuaan Penduduk): Proporsi penduduk lanjut usia (Lansia) di Indonesia telah mencapai 11,8%. Angka ini diproyeksikan BPS akan meningkat menjadi 20–25% pada 2045. Jika tidak dipersiapkan, penuaan penduduk akan menjadi beban besar bagi sistem kesehatan, jaminan sosial, dan ekonomi nasional.

​Di tengah ancaman tersebut, Indonesia berada dalam fase Bonus Demografi (penduduk usia produktif \approx 70\%). Namun, bonus ini tidak otomatis menjadi keuntungan, melainkan sangat bergantung pada kualitas SDM, kesiapan pasar kerja, serta dukungan teknologi dan digitalisasi.

Instrumen Pengawal Pembangunan: IPBK dan IKIK

​LKI 2025 mendukung implementasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan (PJPK) 2025–2029 sebagai panduan lima tahunan bagi pemerintah pusat dan daerah. Untuk mengukur keberhasilan pelaksanaannya, BKKBN menggunakan dua indeks utama:

Isu Utama dan Instrumen Pengukuran Kependudukan (LKI 2025)
Isu Kependudukan Utama
IsuDefinisi/Data Saat IniProyeksi/Kewaspadaan
Low Fertility (Penurunan Fertilitas)Kewaspadaan terhadap tren penurunan, seperti yang dialami Korsel, Jepang, dan Thailand (<1.5).Ditekankan agar Indonesia tidak lengah dan harus menjaga tingkat fertilitas ideal.
Aging Population (Penuaan Penduduk)Proporsi Lansia saat ini mencapai 11,8%.Diproyeksikan mencapai 20–25% pada 2045, berpotensi menjadi beban kesehatan dan ekonomi.
Instrumen Pengukur Keberhasilan PJPK
IPBK (Indeks Pembangunan Berwawasan Kependudukan)Mengukur kinerja pemerintah daerah (sebagai objek utama).Instrumen utama mengukur keberhasilan pelaksanaan PJPK (Peta Jalan Pembangunan Kependudukan).
IKIK (Indeks Kepedulian terhadap Isu Kependudukan)Mengukur peran serta dan kepedulian masyarakat (sebagai subjek pembangunan).Hampir separuh provinsi di kategori kepedulian rendah, butuh penguatan literasi.

Bonivasius menekankan bahwa keberhasilan pembangunan menuju Indonesia Emas 2045 membutuhkan kolaborasi kuat antara pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, dan sektor swasta.

infopublik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *