AMBARA

Budiman Bayu Prasojo: Definisi “Mencukai” Nasib Sendiri Lewat Koper Lima Miliar

Pada Jumat, 27 Februari 2026, lembaga antirasuah KPK resmi menahan BBP, Kepala Seksi Intelijen Cukai pada Direktorat Penindakan dan Penyidikan Ditjen Bea dan Cukai (DJBC), terkait dugaan praktik lancung pengaturan jalur masuk barang impor. (KPK)

KALAU ADA KOMPETISI “Cara Paling Estetik untuk Masuk Penjara,” mungkin Budiman Bayu Prasojo bakal jadi juara favorit pilihan pemirsa. Gimana nggak, pejabat kita yang satu ini nggak tanggung-tanggung dalam urusan logistik. Bukan pakai kardus durian atau kresek hitam sisa belanja di minimarket, beliau memilih koper. Isinya? Uang tunai Rp5 miliar. Sungguh sebuah standard operating procedure yang sangat tertata.

​Budiman bukan orang sembarangan. Jabatannya mentereng: Kepala Seksi Intelijen Cukai Penindakan dan Penyidikan (P2) Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Tugasnya, secara teoritis, adalah menindak dan menyidik pelanggaran. Tapi sepertinya, Pak Budiman sedang melakukan eksperimen sosial: Apakah intelijen bisa mendeteksi bau duit di dalam koper milik sendiri? Jawabannya: Ternyata KPK lebih intelijen dari seksi intelijen.

​Sekarang, mari kita bayangkan berat koper itu. Uang Rp5 miliar dalam pecahan Rp100 ribu itu beratnya sekitar 50 kilogram. Membawanya butuh tenaga ekstra, atau minimal koper dengan roda four-wheel drive yang tahan banting. Sungguh sebuah dedikasi luar biasa dalam melayani (kantong) sendiri.

​Kasus ini seolah menambah daftar panjang prestasi oknum Bea Cukai yang belakangan ini memang lagi rajin-rajinya jadi sorotan netizen. Dari urusan pajak sepatu lari sampai urusan peti jenazah, Bea Cukai selalu punya tempat di hati masyarakat—sebagai sasaran omelan. Nah, aksi Pak Budiman ini ibarat cherry on top. Sebuah penutup manis yang pahit bagi citra kementerian yang katanya sedang bersih-bersih itu.

​Logika kita sederhana saja: kalau intelijennya saja sibuk ngurusin “setoran” dalam koper, lalu siapa yang bertugas mengawasi yang mengawasi?

​Pak Budiman kini harus rela menukar seragam dinasnya yang gagah itu dengan rompi oranye yang warnanya lebih mencolok dari koper lima miliarnya. Setidaknya di dalam tahanan nanti, beliau tidak perlu lagi pusing memikirkan intelijen atau penyidikan. Tugasnya cuma satu: merenung, apakah Rp5 miliar itu sepadan dengan hilangnya kebebasan dan hancurnya reputasi.

​Mungkin judul lagu yang pas buat Pak Budiman saat ini adalah: “Koper, Duit, dan Jeruji”. Sebuah trilogi yang berakhir tragis.

PARAMETER AUDITDETAIL ANALISIS
Subjek KasusBudiman Bayu Prasojo (Kasi Intelijen P2 DJBC)
Barang BuktiKoper Berisi Uang Tunai Rp5.000.000.000
Status HukumTahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
Dampak InstitusiKrisis Kepercayaan Publik Bea Cukai 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *