BALI, getnews – Dalam lanskap diplomasi global yang berubah cepat, Indonesia dituntut untuk tidak hanya hadir, tetapi mampu mengarahkan percakapan dunia. Menurut Direktur Informasi dan Media Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI, Hartyo Harkomoyo, narasi telah bertransformasi menjadi kekuatan diplomasi itu sendiri.
Hartyo menyampaikan pandangan ini dalam Kelas Umum Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Udayana, Senin (8/12), menegaskan bahwa Indonesia berada dalam window of opportunity untuk menjadi agenda setter dan thought leader Global South.
Narasi Adalah Kekuatan Diplomasi di Era Hyper Informasi
Hartyo menjelaskan bahwa era hyper information menuntut kecepatan yang tidak dimiliki oleh diplomasi tradisional. Opini publik dan persepsi internasional kini terbentuk dalam hitungan detik.
“Opini publik terbentuk dalam hitungan detik, dan persepsi dapat memengaruhi keputusan internasional bahkan sebelum perundingan dimulai. Narasi bukan lagi pelengkap diplomasi, melainkan kekuatan diplomasi itu sendiri,” ujarnya.
Indonesia, yang sempat dicatat memiliki kekurangan dalam mengelola informasi, harus merebut perhatian global dan memastikan narasi nasional tidak tenggelam dalam noise informasi.
Pilar Diplomasi Transformatif Menuju Indonesia Emas 2045
Untuk mendongkrak pengaruh global, Indonesia memiliki tiga modal strategis, yaitu: posisi sebagai salah satu pemimpin Global South, keberadaan 132 Perwakilan RI di luar negeri (mayoritas di Global South), serta rekam jejak kuat dalam misi kemanusiaan.
Hartyo menekankan tiga pilar utama yang perlu diperkuat sebagai fondasi Diplomasi Transformatif:
- Narasi & Komunikasi Strategis (Strakom): Harus solid dan konsisten.
- Soft Power Nasional: Meliputi budaya, toleransi, dan solidaritas.
- Peran Diaspora: Termasuk para pekerja migran Indonesia yang tersebar di seluruh dunia.
Milenial Wajib Jadi Duta Narasi Positif
Hartyo menutup dengan pesan tegas kepada generasi muda. Ia menyatakan bahwa diplomasi modern tidak lagi eksklusif milik diplomat.
Generasi muda memiliki peran sentral sebagai duta narasi positif Indonesia dalam sosial media. Peran ini tidak hanya sebatas like dan reshare, tetapi menuntut kemampuan berpikir kritis digital.
“Negara yang mampu mengendalikan narasinya sendiri, akan mengendalikan cara dunia memandangnya,” pungkasnya.
Kementerian Luar Negeri




