CEK CUACA GET INFO

Kepungan Siklon: Ancaman Hidrometeorologi Maret

Tiga Bibit Siklon Tropis Aktif di Selatan Indonesia. (Foto BMKG)

JAKARTA – Indonesia memasuki fase krusial cuaca ekstrem pada awal Maret 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi kemunculan tiga bibit siklon tropis sekaligus—sistem 90S, 93S, dan 92P—di wilayah selatan ekuator. Fenomena langka ini memicu terbentuknya low level jet dan zona konvergensi masif yang membentang dari perairan selatan Banten hingga Nusa Tenggara Barat (NTB).

​Prakirawan BMKG, Hasalika Nurjana, melaporkan bahwa intensitas hujan lebat telah menembus angka kritis di beberapa daerah, dengan Jawa Tengah mencatat curah tertinggi sebesar 77,2 mm per hari. Aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO) yang kini berada pada fase 5 di maritim kontinen semakin memperparah kondisi dengan menginjeksi pasokan uap air, terutama di wilayah timur Indonesia.

​Bagi Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, keberadaan bibit siklon 90S di Samudra Hindia menjadi ancaman langsung. Sistem ini memicu pembentukan awan hujan ekstrem yang berisiko mengakibatkan banjir bandang dan tanah longsor, terutama di wilayah-wilayah dengan tutupan hutan yang telah terdegradasi.

Komponen AnalisisStatus & Tindakan Strategis
Pemicu Utama Kemunculan simultan tiga bibit siklon tropis (90S, 93S, dan 92P) di wilayah selatan Indonesia.
Wilayah Siaga Peringatan dini siaga hujan lebat mencakup NTB, NTT, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.
Parameter Fisik Curah hujan harian ekstrem terpantau antara 53,1 mm hingga 77,2 mm di titik-titik kritis Jawa dan Sumatra.
Risiko Turunan Potensi tinggi bencana hidrometeorologi: banjir bandang, tanah longsor, dan ancaman pohon tumbang di area urban.
Mitigasi Sektoral Aktivasi protokol peringatan dini melalui kanal resmi BMKG dan penguatan koordinasi BPBD lintas provinsi.
Executive Audit by GetNews Intelligence Unit © 2026

BMKG memperingatkan bahwa meski beberapa bibit siklon diperkirakan melemah dalam 72 jam ke depan, dampak ekor siklon (tail effect) berupa angin kencang dan hujan menetap masih akan mendominasi hingga 12 Maret 2026. Pemerintah daerah di wilayah Siaga diimbau untuk memastikan kesiapan tanggul dan saluran drainase guna mencegah eskalasi bencana yang lebih luas.

Verified Source: InfoPublik.id

BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:

”Monumen Besi Tua” di Lombok Barat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *