“Pernyataan tegas PP Muhammadiyah yang menjaga jarak dari laporan Aliansi Muda Muhammadiyah terhadap Pandji Pragiwaksono menunjukkan adanya disosiasi strategis dalam merespons kritik publik. Di tengah riuhnya upaya pidana, ‘Kantor Pusat’ memilih jalur kearifan daripada meja hijau.”
GET INSIGHT – Gelombang pelaporan terhadap komika Pandji Pragiwaksono menemui babak baru yang tak terduga. Setelah sebelumnya Aliansi Muda Muhammadiyah bersama Angkatan Muda NU menyeret Pandji ke Polda Metro Jaya, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah justru mengeluarkan pernyataan yang mendinginkan suasana.
Ketua MPKSDI PP Muhammadiyah, Bachtiar Dwi Kurniawan, menegaskan bahwa laporan tersebut bukan merupakan sikap resmi maupun mandat dari Persyarikatan. Langkah ini seolah menjadi pesan bahwa Muhammadiyah di tingkat pusat lebih mengedepankan dialog dan kedewasaan berorganisasi daripada sekadar ketersinggungan materi komedi.
Kutipan Kunci: Garis Tegas Persyarikatan
“Tindakan yang mengatasnamakan Aliansi Muda Muhammadiyah bukan merupakan sikap resmi maupun mandat dari Persyarikatan. Muhammadiyah senantiasa menjunjung tinggi penyelesaian persoalan secara arif dan bijaksana.”
Disosiasi Organisasi
Tim analisis getnews+ melihat adanya upaya Disosiasi Strategis agar marwah organisasi tidak terseret dalam polemik Stand-up Comedy. Berikut adalah tabel audit perbedaan posisi antara Aliansi Muda (Pelapor) dengan Pimpinan Pusat:
Ujian Kedewasaan Publik
Dengan langkah PP Muhammadiyah ini, beban pembuktian kini beralih kepada kepolisian dan para pelapor. Apakah kasus ini akan tetap berlanjut sebagai delik hukum, ataukah akan menguap sebagai dinamika ekspresi yang salah sasaran?
Langkah “Cuci Tangan” dari Pusat ini sekaligus menjadi teguran halus bagi gerakan muda di bawah naungan ormas untuk tidak gegabah menggunakan nama besar organisasi dalam isu-isu sensitif yang bisa menurunkan kualitas demokrasi dan kebebasan berekspresi di Indonesia.




