AMBARA – Menjadi pejabat di negeri ini ternyata hampir sama beratnya dengan menjadi wasit sepak bola di liga tarkam: apa pun keputusannya, tetap saja ada yang menyoraki. Baru-baru ini, Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan kegundahannya soal hobi baru netizen dan komentator yang hobi melihat segala sesuatu dari sudut pandang negatif.
Presiden mencontohkan dilema para menterinya saat ada bencana. Datang ke lokasi dibilang cuma numpang foto atau menghambat kerja tim evakuasi, tapi kalau nggak datang, langsung dicap nggak peduli dan nggak punya empati. “Saudara-saudara, serba susah,” keluh beliau. Sebuah curhatan yang terasa sangat manusiawi, sekaligus menyiratkan bahwa menjadi menteri di era media sosial itu butuh mental sekuat beton proyek strategis nasional.
Dashboard Dilema: Matriks “Serba Salah” Pejabat Kita
Untuk memetakan kenapa Pak Presiden sampai bilang “serba susah”, mari kita bedah variabel kegalauan birokrasi ini dalam tabel analisis AMBARA:
| Aksi Menteri | Tuduhan Kelompok A | Tuduhan Kelompok B |
|---|---|---|
| Turun ke Lokasi Bencana | “Cuma konten, ganggu relawan!” | “Luar biasa, menteri idaman!” |
| Koordinasi dari Balik Meja | “Pejabat elitis, nggak tahu lapangan!” | “Langkah taktis, birokrasi efisien.” |
| Diam Tanpa Statement | “Buta dan tuli terhadap rakyat.” | “Ssst.. lagi kerja dalam senyap.” |
| Bicara Terus di Media | “Kebanyakan omon-omon!” | “Transparansi informasi publik.” |
*geser ke kiri Boss
Keadilan dalam Komentar
Memang benar, mengkritik itu adalah vitamin bagi demokrasi. Tapi kalau dosisnya terlalu tinggi tanpa melihat konteks, ia bisa berubah jadi racun yang bikin pejabat malas bergerak. Fenomena ini yang oleh AMBARA disebut sebagai Negative-Bias Pandemic. Kita seolah-olah sudah punya template marah-marah bahkan sebelum menterinya menginjakkan kaki di pesawat.
Dilema “datang dibilang konten, nggak datang dibilang absen” ini adalah potret betapa mahalnya rasa percaya (trust) di tengah masyarakat kita hari ini.
Keluhan Presiden Prabowo adalah pengingat bahwa di balik jabatan mentereng, ada manusia yang juga bisa lelah menghadapi penghakiman masal. Kritik itu perlu, tapi membedah kebijakan dengan kepala dingin jauh lebih keren daripada sekadar hobi melempar komentar pedas sambil tiduran. Lagipula, kalau semua dianggap salah, jangan-jangan yang bermasalah bukan menterinya, tapi cara kita memandang dunia yang terlalu “gelap”.




