MAKASSAR — Tim Disaster Victim Identification (DVI) Biddokes Polda Sulsel terus melakukan audit forensik terhadap total 9 kantong jenazah yang telah tiba di posko ante-mortem RS Bhayangkara Makassar. Seiring dengan ditemukannya kotak hitam (black box), fokus otoritas kini bergeser pada percepatan identifikasi profil DNA melalui sampel keluarga.
Validasi Otoritas: Antara Temuan Lapangan dan Lab
Basarnas menegaskan adanya perbedaan signifikan antara jumlah kantong jenazah dan jumlah korban. Kepala Basarnas RI, Mohammad Syafii, menjelaskan bahwa 7 kantong yang dievakuasi pada Kamis (22/01) sore berisi potongan tubuh yang ditemukan terpencar di radius 50 meter dari mesin pesawat.
“Hasil identifikasi teknis tetap berada di tangan tim DVI. Kami mengimbau keluarga dan publik untuk menunggu hasil DNA guna memastikan apakah 7 kantong tersebut mewakili jumlah individu tertentu atau merupakan bagian dari korban yang sudah ditemukan sebelumnya,” ungkap Mohammad Syafii.
Dukungan teknologi modifikasi cuaca yang menurunkan curah hujan hingga 30% di sektor 4 Gunung Bulusaraung menjadi faktor kunci keberhasilan evakuasi udara hari ini. Tim DVI Biddokes Polda Sulsel kini telah mengumpulkan 14 sampel DNA dari keluarga korban untuk proses rekonsiliasi data.
“Data yang valid bukan hanya tentang angka, tapi tentang cara kita menghargai setiap nyawa di balik manifes penerbangan.”
Data Otoritas & Verifikasi:
- • Laporan Harian Operasi SAR Bulusaraung – Basarnas RI
- • Update Identifikasi Korban – DVI Biddokes Polda Sulsel
- • Data Teknis Penemuan Black Box – KNKT Indonesia
*Seluruh data identitas telah melalui verifikasi silang (cross-check) antara manifest penerbangan dan hasil rekonsiliasi tim DVI.




