βMATARAM, GETNEWS. β Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026 seharusnya menjadi panggung pemulihan bagi sektor pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB). Namun, rilis terbaru BMKG mengenai potensi cuaca ekstrem di perairan Selat Lombok dan Selat Alas mulai menciptakan “turbulensi” pada data reservasi hotel dan rencana perputaran uang UMKM di destinasi wisata unggulan.
βπ Matriks Variabel: Analisis Dampak Nataru NTB 2026
Pergeseran Okupansi: Fenomena “Safe Destination”
βAnalisis Getnews memprediksi adanya anomali pada pola menginap wisatawan. Jika biasanya Tiga Gili menjadi primadona, peringatan gelombang tinggi memaksa wisatawan beralih ke destinasi yang dianggap lebih aman secara logistik.
βHotel-hotel di wilayah perkotaan (Mataram) dan wisata pegunungan seperti Sembalun berpotensi mendapatkan “limpahan” tamu yang membatalkan rencana wisata bahari mereka. Ini adalah mekanisme pertahanan diri pasar yang secara tidak langsung menyelamatkan angka okupansi total di NTB, meski terjadi ketimpangan distribusi pendapatan antar wilayah.
βUMKM: Terjepit Stok dan Cuaca
βDampak yang paling “tersembunyi” adalah pada rantai pasok UMKM kuliner. Kenaikan harga sembako yang sudah dipantau Getnews sebelumnya di Pasar Mandalika (Cabai Rp75k), diperparah dengan terhambatnya distribusi barang via laut. UMKM di destinasi wisata kini dihadapkan pada dua pilihan sulit: menaikkan harga jual di tengah daya beli yang belum stabil, atau menanggung kerugian akibat pembusukan stok karena kunjungan yang tidak sesuai target.
βKesimpulan: Mitigasi adalah Kunci
βKeberhasilan ekonomi Nataru NTB 2026 tidak lagi diukur dari seberapa banyak turis yang datang, melainkan seberapa siap otoritas (BI, OJK, Pemerintah Daerah) dalam melakukan mitigasi bencana dan menjaga stabilitas harga.
βTanpa manajemen krisis yang terintegrasi antara data cuaca BMKG dan operasional pelabuhan, potensi perputaran uang triliunan rupiah selama Nataru bisa menguap begitu saja menjadi beban ekonomi baru bagi daerah.




