“Rotasi dr. Lalu Herman Mahaputra ke Bapenda memicu debat publik: meritokrasi atau eksperimen? Di balik jas putih yang berganti seragam pendapatan, dr. Jack kini memikul mandat berat—menyembuhkan defisit fiskal NTB.”
GETNEWS+ – Gelombang mutasi awal 2026 di Pemprov NTB menyisakan satu nama yang paling banyak dibicarakan: dr. Lalu Herman Mahaputra. Publik bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang dokter dan eks Direktur Rumah Sakit tiba-tiba ditugaskan mengurus pajak di Badan Pendapatan Daerah (Bapenda).
Menanggapi keraguan itu, pria yang akrab disapa dr. Jack ini menjawab dengan nada tenang namun penuh percaya diri. Baginya, mengurus pendapatan daerah tak jauh berbeda dengan mengelola rumah sakit. Rekam jejaknya di RSUD NTB yang bertransformasi menjadi pusat rujukan modern dengan pendapatan yang tumbuh pesat menjadi modal utamanya untuk meyakinkan publik bahwa ia sanggup mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Analisis Strategis: Logika di Balik Rotasi “Anomali”
Tim analisis getnews+ melihat bahwa penempatan dr. Jack adalah langkah pragmatis Gubernur untuk menyuntikkan “budaya korporasi” ke dalam birokrasi pendapatan. Jika selama ini Bapenda bekerja dengan ritme administratif, dr. Jack diharapkan membawa ritme layanan publik yang berorientasi pada profitabilitas dan efisiensi, sebagaimana keberhasilannya di RSUD.
“Saya mampu mengoptimalkan PAD. Lihat saja perkembangan, pembangunan, dan pendapatan RSUD NTB selama saya menjabat. Logika manajemennya tetap sama: inovasi dan pelayanan.”
Audit Performa: Dari RSUD menuju Bapenda
Berikut adalah perbandingan nilai tambah yang dibawa dr. Jack dari medan tempur lama ke medan tempur baru:




