Menkomdigi Meutya Hafid dalam peluncuran Senyum Nyaman dengan Biometrik (SEMANTIK) di Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2026) mengatakan pendaftaran kartu SIM menggunakan verifikasi wajah yang terhubung dengan NIK, menutup ruang penggunaan nomor sekali pakai yang sering dipakai untuk scam, phishing, dan penyalahgunaan OTP. (Foto: InfoPublik/Amiri Yandi)

​JAKARTA – Jakarta kini tengah mempertaruhkan privasi warganya demi keamanan digital yang lebih ketat. Melalui peluncuran program SEMANTIK (Senyum Nyaman dengan Biometrik), Kementerian Komunikasi dan Digital resmi mewajibkan registrasi kartu SIM berbasis data biometrik—sebuah langkah ambisius untuk memutus rantai penipuan daring yang kian endemik.

​Namun, di balik janji keamanan ini, tersimpan risiko permanen: data biometrik bukanlah kata sandi yang bisa diatur ulang setelah kebocoran.

​Kunci Digital yang Tak Tergantikan

​Bagi pemerintah, kartu SIM bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan paspor digital yang menghubungkan individu ke sistem perbankan dan layanan publik. Ardi Sutedja, Ketua Indonesia Cyber Security Forum (ICSF), menegaskan bahwa validasi wajah atau sidik jari akan menutup celah penggunaan identitas palsu yang selama ini menyuburkan praktik SIM swap dan penipuan finansial.

​”Ketika SIM menjadi kunci akses layanan strategis, penyalahgunaannya berdampak sistemik,” ujar Ardi. Namun, ia memberikan catatan tebal: biometrik bersifat permanen. Sekali data wajah Anda bocor ke pasar gelap, identitas digital Anda terancam selamanya.

Audit Strategis: Registrasi SIM Biometrik

Parameter RisikoStatus Saat IniVonis Keamanan
Validasi IdentitasMandat Permen Komdigi No. 7/2026HIGH ENFORCEMENT
Ancaman DeepfakeButuh Teknologi Liveness DetectionVULNERABLE
Tata Kelola DataMenunggu Standar Audit IndependenUNDER PRESSURE

Antara Keamanan dan Privasi

​Keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada kecanggihan enkripsi, tetapi juga pada integritas manusia di lapangan. Ancaman deepfake yang mampu memanipulasi verifikasi wajah menjadi tantangan teknis baru bagi operator seluler. Tanpa sistem pendeteksi kehidupan (liveness detection) yang mumpuni, biometrik bisa menjadi formalitas yang mudah disiasati.

​Jakarta harus memastikan bahwa registrasi ini bukan sekadar pengumpulan data massal, melainkan benteng perlindungan yang akuntabel. Kepercayaan publik adalah mata uang yang paling berharga dalam transisi ini; jika tata kelola data kembali gagal, biayanya akan jauh lebih mahal daripada sekadar kerugian finansial akibat penipuan.

Verified Source: InfoPublik.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *