MAKASSAR — Proses identifikasi korban kecelakaan pesawat Indonesia Air Transport (IAT) ATR 42-500 memasuki fase paling krusial. Tim Disaster Victim Identification (DVI) Biddokes Polda Sulsel saat ini sedang melakukan pemeriksaan mendalam terhadap temuan bagian tubuh (body part) korban ketiga yang dievakuasi dari lereng Gunung Bulusaraung, Pangkep.
Forensik Berkejaran dengan Waktu
Kepala Biddokes Polda Sulsel, Kombes Pol dr. Muh Haris, menegaskan bahwa hingga saat ini tim belum dapat memastikan identitas maupun jenis kelamin dari potongan tubuh tersebut. Kondisi temuan yang terbatas mengharuskan tim DVI bekerja ekstra maksimal menggunakan seluruh instrumen forensik yang tersedia.
”Kami sedang melakukan pemeriksaan maksimal untuk menentukan identifikasi korban yang sudah kami terima, baik melalui metode primer seperti DNA dan gigi geligi, maupun data sekunder dari properti yang melekat pada tubuh korban,” ujar dr. Haris di RS Bhayangkara Makassar.
Penyisiran di Sektor Ekstrem
Kepala Basarnas Makassar, Muhammad Arif Anwar, menambahkan bahwa penemuan pada hari kelima operasi SAR tersebut tidak hanya berupa body part, tetapi juga mencakup sejumlah barang pribadi yang diharapkan dapat mempercepat proses sinkronisasi data antemortem. Seluruh temuan telah diserahkan secara resmi kepada pihak berwenang untuk identifikasi lanjutan.
Referensi Otoritas:
Informasi ini dihimpun melalui keterangan resmi Biddokes Polda Sulsel dan laporan lapangan Kantor Basarnas Makassar.
“Ilmu forensik bukan sekadar mencari nama; ia adalah penghormatan terakhir bagi mereka yang tak lagi mampu bersuara, mengembalikan identitas di tengah puing tragedi.”
Diplomasi Kata — Kehadiran tim DVI adalah bentuk audit kemanusiaan dari negara. Getnews memandang proses identifikasi ini sebagai titik krusial dalam memberikan kepastian hukum dan emosional bagi keluarga. Di balik setiap prosedur DNA dan dental, ada tanggung jawab moral untuk memastikan tidak ada kesalahan sekecil apa pun. Kepulangan Florencia Lolita Wibisono sebelumnya adalah bukti efektivitas sistem ini; kini tugas berat menanti untuk mengembalikan ‘nama’ pada temuan ketiga di Bulusaraung.




