JAKARTA — Sebuah studi komprehensif dari LPEM FEB UI baru saja mengangkat tabir mengenai skala ekonomi PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) yang sebenarnya. Jika sebelumnya publik hanya melihat “permukaan” berupa setoran pajak, riset ini mengungkap bahwa sepanjang 2018–2024, AMMAN telah menginjeksikan Rp173,4 triliun ke dalam PDB nasional. Dengan rata-rata kontribusi Rp24,8 triliun per tahun, AMMAN kini bukan lagi sekadar entitas tambang regional, melainkan pemain sistemik yang menyumbang 0,13% dari seluruh ekonomi Indonesia.
Angka ini bukanlah sekadar catatan kas. Melalui metodologi Inter-Regional Input-Output (IRIO), LPEM UI membuktikan adanya efek domino yang menjangkau sektor pertanian hingga logistik. Penurunan angka kemiskinan sebesar 0,024–0,098 poin persentase secara nasional adalah klaim yang berani; ini menunjukkan bahwa aktivitas di lubang tambang Batu Hijau mampu menarik puluhan ribu orang keluar dari garis kemiskinan, bahkan di luar wilayah Nusa Tenggara Barat.
Fiskal Kuat, Ekspor Dominan
Data fiskal menunjukkan AMMAN telah menyetor Rp39,05 triliun ke kas negara dalam bentuk pajak dan royalti. Namun, daya pikat utamanya terletak pada neraca pembayaran. Dengan nilai ekspor mencapai USD10,29 miliar, perusahaan ini menjadi benteng cadangan devisa yang krusial bagi Bank Indonesia di tengah volatilitas nilai tukar rupiah. Kehadiran smelter tembaga yang segera beroperasi dijanjikan akan menggandakan nilai tambah ini, mengubah Indonesia dari eksportir tanah menjadi eksportir logam bernilai tinggi.
Audit Strategis GetNews: LPEM UI Research Validation
Hasil kroscek data riset terhadap dampak makroekonomi AMMAN:
Vonis Redaksi: Valuasi Nyata, Bukan Sekadar Manis
Riset LPEM UI ini mengonfirmasi bahwa AMMAN bukan sekadar “tambang lokal”. Angka Rp173 triliun tersebut adalah realitas ekonomi yang nyata, bukan sekadar laporan humas agar terdengar manis. Namun, besarnya angka ini juga memberikan peringatan: Indonesia kini memiliki ketergantungan yang signifikan pada satu entitas tambang untuk stabilitas devisa dan PDB. Transformasi menuju hilirisasi smelter tembaga bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk memastikan bahwa Rp173 triliun ini menjadi fondasi industri manufaktur masa depan, bukan sekadar nilai yang hilang saat bijih tembaga habis.
Verified Source: RUANGENERGI.com
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
AKROBAT UTANG: Menjinakkan Defisit di Tengah Badai



