SUMBAWA – Pulau Bungin, yang dikenal sebagai salah satu pulau terpadat di dunia, kini tengah dipersiapkan menjadi episentrum baru budidaya perikanan nasional. Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, mengonfirmasi rencana implementasi program Kampung Budidaya Perikanan untuk memaksimalkan potensi komoditas bernilai tinggi: kerang mutiara dan lobster.
Langkah ini menyusul rampungnya pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) 100 persen di wilayah tersebut. “Pulau Bungin bukan lagi sekadar pusat perikanan tangkap. Kami melihat potensi budidaya yang mulai tumbuh secara mandiri oleh warga. Tahun ini, intervensi pemerintah akan masuk untuk memastikan ekonomi di sini benar-benar produktif,” ujar Menteri Trenggono dalam keterangan resminya, Sabtu (28/2).
Intervensi KKP akan mencakup penyediaan fasilitas keramba jaring apung (KJA) modern, pendampingan teknis, hingga pelatihan manajemen usaha. Hal ini bertujuan untuk menaikkan skala produksi yang selama ini masih bersifat rumahan (home industry) menjadi skala industri yang kompetitif.
Analisis Investigatif: Diversifikasi di Tengah Kepadatan
Strategi KKP mengintegrasikan budidaya di Pulau Bungin adalah langkah mitigasi cerdas terhadap ketergantungan nelayan pada perikanan tangkap yang sangat dipengaruhi musim dan kondisi stok ikan di laut lepas. Dengan lebih dari 1.000 KK yang mayoritas nelayan kecil (<5 GT), diversifikasi ke sektor mutiara dan lobster memberikan bantalan ekonomi (economic cushion) yang stabil.
Fasilitas KNMP yang mencakup pabrik es dan cold storage tidak hanya melayani hasil tangkapan, tetapi juga menjadi infrastruktur vital bagi logistik hasil budidaya. Kepala Desa Pulau Bungin, Jaelani, mengonfirmasi bahwa kualitas air laut di wilayahnya sangat mendukung, namun hambatan utama selama ini adalah keterbatasan teknologi dan manajemen—celah yang kini coba ditutup oleh KKP.
Verified Source: InfoPublik.id
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
Rinjani Bukan Bukit Teletubbies: Gubernur Iqbal dan Strategi Menyingkirkan Pendaki “Low Budget”



