MATARAM — Kalau kalian rajin baca berita ekonomi belakangan ini, pasti isinya kalau nggak angka, ya istilah-istilah mentereng kayak “Outlook 2026” atau “Divergensi Pertumbuhan”. Jujur saja, buat kita yang mikirin harga token listrik sama cicilan motor, baca ginian berasa kayak baca mantra pengusir setan: susah dimengerti dan bikin ngantuk.
Tapi, ada kabar yang lumayan bikin kaget dari kantor BPS dan BI NTB. Katanya, ekonomi NTB di tahun 2026 ini diprediksi bakal “lari” lebih kencang dibanding ekonomi Indonesia secara nasional. Ibarat balapan lari, Indonesia baru mulai joging, NTB sudah lari maraton sambil bawa bendera.
Non-Tambang yang Lagi Unjuk Gigi
Selama ini kita tahu NTB itu identik sama lubang besar di Sumbawa Barat (baca: tambang). Kalau tambang lagi lesu, ekonomi kita ikut demam. Tapi sekarang ada anomali lucu. Sektor non-tambang—kayak pertanian, hotel, dan warung-warung kopi tempat kalian nongkrong—malah tumbuh sampai 7,86%.
Artinya apa? Artinya, tanpa nungguin emas atau tembaga keluar dari perut bumi pun, warga NTB sebenarnya sudah mulai pinter cari duit sendiri. Pariwisata kita mulai bangun tidur pasca-event di Mandalika, dan petani kita lagi punya “tenaga” lebih meskipun harga pupuk masih sering bikin elus dada.
NTP dan Angka yang Bikin Dilema
Ada istilah namanya Nilai Tukar Petani (NTP). Singkatnya, ini adalah angka buat ngukur: petani kita lebih banyak untung atau buntung? Angka NTB sekarang di 130,31. Secara teori statistik, ini angka tinggi banget, alias petani kita lagi makmur-makmurnya.
Tapi ya itu, statistik seringkali kayak filter Instagram: kelihatan cakep di layar, tapi aslinya mungkin nggak gitu-gitu amat. Meskipun angkanya tinggi, faktanya NTB masih jadi salah satu provinsi dengan upah buruh paling rendah. Jadi, ekonominya memang tumbuh, tapi distribusi “kue”-nya mungkin belum rata sampai ke piring kita masing-masing.
Metodologi Verifikasi Data:
Analisis ini menggunakan teknik sinkronisasi data real-time antara Indonesia Economic Outlook 2026 (rilis 13 Februari) dan Berita Resmi Statistik BPS NTB (rilis 5 Februari). Tingkat presisi komparatif diverifikasi melalui pengecekan silang terhadap instrumen kebijakan moneter Bank Indonesia NTB per 15 Februari 2026.
Gimana? Sudah agak tercerahkan atau malah makin bingung? Intinya, GetNews hadir di kolom GET DATA ini bukan buat pamer angka, tapi buat ngasih tahu kalau di balik grafik yang naik-turun itu, ada nasib kita yang lagi dipertaruhkan. Ekonomi memang makro, tapi efeknya sangat mikro—sampai ke urusan dapur masing-masing.




