GET DATA STATISTIK

Anomali Ekspor NTB: Tambang Meroket, Impor Menukik

MATARAM — Jika ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah sebuah grafik, maka sepanjang Januari 2026, garisnya tidak lagi mendaki, melainkan melompat. Bayangkan sebuah wilayah yang tahun lalu hanya mencatatkan ekspor “receh” sebesar US$ 3,8 juta, tiba-tiba meledak menjadi US$ 76,6 juta dalam sebulan. Kenaikannya tidak tanggung-tanggung: 1.868 persen.

​Namun, di balik angka heroik ini, ada cerita tentang ketergantungan akut pada satu sektor: kerukan bumi. Ekonomi NTB saat ini ibarat seseorang yang menang lotre; dompetnya tebal seketika karena tembaga, namun fondasi industri lainnya masih perlu dipertanyakan.

​Pesta Tembaga di Tanah Mataram

​Ekspor NTB bulan Januari adalah tentang konsentrat tembaga. Komoditas ini menyumbang US$ 50,8 juta atau sekitar 66 persen dari total ekspor. Tanpa sektor pertambangan, statistik ekonomi NTB mungkin akan terlihat pucat pasi.

​Negara tujuan utama pun bergeser secara drastis. Thailand kini menjadi “mitra strategis” baru bagi pundi-pundi NTB dengan serapan 59,59 persen, disusul Tiongkok yang setia menguntit di posisi kedua. Mengapa Thailand? Sederhana: rantai pasok otomotif dan elektronik mereka membutuhkan asupan mineral yang melimpah dari perut bumi NTB.

​Ironi Impor yang Layu

​Di sisi seberang, kinerja impor NTB justru terjun bebas. Nilainya hanya US$ 2,2 juta, anjlok 94 persen dibanding Januari tahun lalu. Bahkan, impor barang konsumsi tercatat nol alias turun 100 persen.

​Secara teknis, ini menghasilkan surplus neraca perdagangan yang impresif. Namun secara struktural, anjloknya impor barang modal menunjukkan bahwa mesin-mesin industri di NTB mungkin sedang dalam fase stagnasi atau sekadar mengoptimalkan alat yang ada tanpa adanya ekspansi baru. Australia masih menjadi pemain tunggal di sini, menguasai 84 persen pasar impor NTB melalui penyediaan suku cadang alat berat.

Strategic Audit: NTB Trade Performance (Jan 2026)

Kategori DataNilai & VolumeVonis GETNEWS (Audit)
Pertumbuhan Ekspor (y-on-y)+1.868,82 Persen.EXPONENTIAL SURGE
Dominasi KomoditasTembaga & Tambang (91%).EXTREME CONCENTRATION
Neraca PerdaganganSurplus US$ 74,38 Juta.HEALTHY SURPLUS

Catatan Akhir: Menanti Diversifikasi

​Pemerintah daerah dan pelaku industri harus mulai waspada. Mengandalkan tembaga sebagai tulang punggung tunggal adalah strategi yang berisiko tinggi. Sektor non-tambang seperti perikanan (ikan dan udang) serta perhiasan harus didorong lebih keras agar tidak sekadar menjadi penggembira di laporan BPS. Selama diversifikasi produk belum terjadi, ekonomi NTB akan terus berdansa mengikuti fluktuasi harga mineral global yang seringkali sulit ditebak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *